Kesadaran Masyarakat Indonesia terhadap Kesehatan Mental Masih Minim

Sabtu, 03 Desember 2022 - 13:59 WIB
loading...
Kesadaran Masyarakat Indonesia terhadap Kesehatan Mental Masih Minim
Pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental ternyata masih minim di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. / Foto: ilustrasi/Freepik
A A A
JAKARTA - Pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental ternyata masih minim di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Tingkat gangguan kesehatan mental di Tanah Air pun cukup tinggi.

Data Kemenkes menunjukkan bahwa pada 2021, tercatat 20% dari total penduduk Indonesia mengalami potensi masalah kesehatan mental.

Sementara itu, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan jika separuh dari gangguan mental bermula pada umur 14 tahun, namun banyak kasus yang terjadi tidak terdeteksi dan tanpa tindakan.

Baca juga: Kemenkes Targetkan Bedah Jantung Terbuka Dapat Dilakukan di Seluruh Indonesia pada 2027

Terdapat berbagai faktor yang menjadi pemicu masalah keseimbangan kesehatan mental ini, di antaranya tekanan dalam pekerjaan, masalah keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial.

Pada 2019, WHO pun mencatat bahwa sebanyak hampir 1 miliar penduduk dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini meningkat secara signifikan pada masa pandemi Covid-19.

Di Indonesia, hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia pada 2021 menemukan bahwa mayoritas remaja dan dewasa muda berusia 16-24 tahun memasuki periode kritis kesehatan mental. Lebih lanjut, penelitian tersebut menemukan bahwa hampir 96% remaja dan dewasa muda mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan 88% di antaranya mengalami gejala depresi.

Organisasi AKAR (Asosiasi Kesehatan Remaja Indonesia) yang memiliki fokus perhatian pada kesehatan remaja usia 10-24 tahun, prihatin dengan tingginya angka gangguan kesehatan mental pada remaja. Ketua dan Founder AKAR, dr. Fransisca Handy menjelaskan, ketika seseorang merasakan emosi yang sangat kuat dapat diikuti dengan keluhan fisik.



"Biasanya kesehatan jiwa dipengaruhi faktor-faktor seperti tingginya tingkat stres di pekerjaan atau perkuliahan, masalah percintaan atau hubungan dengan keluarga dan teman, persaingan lewat sosial media, serta kemampuan untuk mengelola situasi dan emosi yang dirasakan. Remaja ini juga biasanya belum tahu cara mengelola stres dengan baik," papar dr. Fransisca dalam keterangan resminya, Sabtu (3/11/2022).

Dokter Fransisca menambahkan, banyak anak muda berkeluh kesah di media sosial atau bercerita pada orang yang salah atau melakukan hal-hal yang terkesan membantu sesaat seperti merokok dan perilaku adiktif lainnya sebagai cara mengelola stres.

Baca juga: Pahlawan Kemenangan Korsel di Piala Dunia 2022 Ternyata Hoobae Seolhyun di Masa Sekolah

Menurut dr. Fransisca, masalah kesehatan jiwa merupakan masalah yang sangat kompleks dan dilematis dikarenakan stigma yang terlanjur melekat akibat kurangnya pemahaman akan isu ini. Oleh karena itu, pentingnya berhenti sejenak memberikan waktu bagi diri untuk mengenal dan mencintai diri sendiri sangat penting dilakukan.
(nug)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2818 seconds (11.252#12.26)