Kesadaran Masyarakat Indonesia terhadap Kesehatan Mental Masih Minim
Sabtu, 03 Desember 2022 - 13:59 WIB
loading...
A
A
A
Pada 2019, WHO pun mencatat bahwa sebanyak hampir 1 miliar penduduk dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini meningkat secara signifikan pada masa pandemi Covid-19.
Di Indonesia, hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia pada 2021 menemukan bahwa mayoritas remaja dan dewasa muda berusia 16-24 tahun memasuki periode kritis kesehatan mental. Lebih lanjut, penelitian tersebut menemukan bahwa hampir 96% remaja dan dewasa muda mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan 88% di antaranya mengalami gejala depresi.
Organisasi AKAR (Asosiasi Kesehatan Remaja Indonesia) yang memiliki fokus perhatian pada kesehatan remaja usia 10-24 tahun, prihatin dengan tingginya angka gangguan kesehatan mental pada remaja. Ketua dan Founder AKAR, dr. Fransisca Handy menjelaskan, ketika seseorang merasakan emosi yang sangat kuat dapat diikuti dengan keluhan fisik.
"Biasanya kesehatan jiwa dipengaruhi faktor-faktor seperti tingginya tingkat stres di pekerjaan atau perkuliahan, masalah percintaan atau hubungan dengan keluarga dan teman, persaingan lewat sosial media, serta kemampuan untuk mengelola situasi dan emosi yang dirasakan. Remaja ini juga biasanya belum tahu cara mengelola stres dengan baik," papar dr. Fransisca dalam keterangan resminya, Sabtu (3/11/2022).
Di Indonesia, hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia pada 2021 menemukan bahwa mayoritas remaja dan dewasa muda berusia 16-24 tahun memasuki periode kritis kesehatan mental. Lebih lanjut, penelitian tersebut menemukan bahwa hampir 96% remaja dan dewasa muda mengalami gejala kecemasan (anxiety) dan 88% di antaranya mengalami gejala depresi.
Organisasi AKAR (Asosiasi Kesehatan Remaja Indonesia) yang memiliki fokus perhatian pada kesehatan remaja usia 10-24 tahun, prihatin dengan tingginya angka gangguan kesehatan mental pada remaja. Ketua dan Founder AKAR, dr. Fransisca Handy menjelaskan, ketika seseorang merasakan emosi yang sangat kuat dapat diikuti dengan keluhan fisik.
"Biasanya kesehatan jiwa dipengaruhi faktor-faktor seperti tingginya tingkat stres di pekerjaan atau perkuliahan, masalah percintaan atau hubungan dengan keluarga dan teman, persaingan lewat sosial media, serta kemampuan untuk mengelola situasi dan emosi yang dirasakan. Remaja ini juga biasanya belum tahu cara mengelola stres dengan baik," papar dr. Fransisca dalam keterangan resminya, Sabtu (3/11/2022).
Lihat Juga :