CERMIN: Nostalgia Bersama Whitney Houston
Sabtu, 24 Desember 2022 - 08:13 WIB
loading...
Film I Wanna Dance with Somebody mengajak penonton bernostalgia dengan lagu-lagu Whitney Houston. Foto/Sony Pictures Releasing
A
A
A
JAKARTA - Tahun 1982. Saya baru masuk TK dan belajar membaca. Sementara Whitney Houston menandatangani kontrak rekamannya dengan Clive Davispada usia 19 tahun.
Setelahnya, dunia mengenal Whitney Houston sebagai penyanyi karismatik dengan kekuatan dan jangkauan suara yang luar biasa indah. Pada tahun 1985, radio di seluruh dunia memutar Saving All My Love For You dan mulai menempatkannya dalam radar industri musik.
Istilah The Voice disematkan padanya karena ia dinilai mewakili suara sebuah zaman. Tak ada yang menandingi Whitney dalam soal bernyanyi karena karunia itu datangnya dari Tuhan. “God gives you a gift, you got to use it right, “ kata ibunya selalu mengingatkannya. Dunia mengingatnya dari masa ke masa dengan banyak lagu populer dalam istilah Clive, “vocally ambitious”, yang hanya bisa dinyanyikan Whitney seorang.
Tapi popularitas selalu punya dua sisi mata uang. Ia berkah sekaligus kutukan. Whitney mulai merasa tak nyaman ketika kehidupan pribadinya dikorek terlalu dalam dan akhirnya ia menceburkan diri terlalu dalam ke dalam lautan narkoba yang kelak akan menenggelamkannya.
![CERMIN: Nostalgia Bersama Whitney Houston]()
Foto: Sony Pictures Releasing
Dalam film I Wanna Dance with Somebody”, sutradara Kasi Lemmons berupaya membuka tabir demi tabir kehidupan Whitney. Sayangnya yang dikupas pun sebagian besar hal yang sudah dibahas tabloid ribuan kali sehingga terasa tak istimewa.
Kasi tak berusaha mendorong lebih banyak drama dari skenario dibanding sekadar hanya mereplikasi riwayat hidup Whitney yang bisa kita baca di Wikipedia. Padahal dengan embel-embel nama Anthony McCarten yang sebelumnya menulis Bohemian Rhapsody, kita berharap film ini juga punya kualitas setara.
Setelahnya, dunia mengenal Whitney Houston sebagai penyanyi karismatik dengan kekuatan dan jangkauan suara yang luar biasa indah. Pada tahun 1985, radio di seluruh dunia memutar Saving All My Love For You dan mulai menempatkannya dalam radar industri musik.
Istilah The Voice disematkan padanya karena ia dinilai mewakili suara sebuah zaman. Tak ada yang menandingi Whitney dalam soal bernyanyi karena karunia itu datangnya dari Tuhan. “God gives you a gift, you got to use it right, “ kata ibunya selalu mengingatkannya. Dunia mengingatnya dari masa ke masa dengan banyak lagu populer dalam istilah Clive, “vocally ambitious”, yang hanya bisa dinyanyikan Whitney seorang.
Tapi popularitas selalu punya dua sisi mata uang. Ia berkah sekaligus kutukan. Whitney mulai merasa tak nyaman ketika kehidupan pribadinya dikorek terlalu dalam dan akhirnya ia menceburkan diri terlalu dalam ke dalam lautan narkoba yang kelak akan menenggelamkannya.

Foto: Sony Pictures Releasing
Dalam film I Wanna Dance with Somebody”, sutradara Kasi Lemmons berupaya membuka tabir demi tabir kehidupan Whitney. Sayangnya yang dikupas pun sebagian besar hal yang sudah dibahas tabloid ribuan kali sehingga terasa tak istimewa.
Kasi tak berusaha mendorong lebih banyak drama dari skenario dibanding sekadar hanya mereplikasi riwayat hidup Whitney yang bisa kita baca di Wikipedia. Padahal dengan embel-embel nama Anthony McCarten yang sebelumnya menulis Bohemian Rhapsody, kita berharap film ini juga punya kualitas setara.
Lihat Juga :