Hal ini Akan Terjadi saat Anda Sakit tapi Nekat Ngantor
Selasa, 17 November 2015 - 02:25 WIB
Hal ini Akan Terjadi saat Anda Sakit tapi Nekat Ngantor
A
A
A
LONDON - Apakah Anda termasuk kategori orang-orang atau pekerja yang bangga akan diri sendiri karena tidak pernah mengambil ‘sick day’ alias ‘izin absen bekerja karena alasan sakit?’
Dengan kata lain, Anda adalah salah satu orang yang mana menghabiskan sekitar 157 hari kerja di kantor sambil mengusap hidung karena flu, dan mengumbar virus itu kepada rekan kerja Anda, bukan begitu?
Banyak orang di Inggris bilang, itu diungkapkan dengan julukan ‘presenteeism’ alias cuma sekedar agar tampak hadir di kantor alias ‘cuma syarat’ agar terlihat bos.
Beberapa ilmuwan di Inggris seperti dilansir dari situs metro.co.uk ternyata telah menganalisis sekitar 61 hasil penelitian dari 34 negara berbeda di dunia, untuk mencari tahu apa yang dikatakan soal kasus di atas.
Yang membuat menarik ialah mengapa beberapa orang tetap memaksakan dirinya bekerja ketika mereka sakit, sementara yang lainnya justru saat mengalami itu malah beristirahat di rumahnya.
Dr. Mariella Miraglia dari University of East Anglia dan Gary Johns dari Concordia University menganalisa data riset yang telah disediakan oleh lebih dari 175 ribu orang.
Mereka pertama mengidentifikasi alasan utama dari ungkapan ‘presenteeism’ tersebut dan kemudian kepribadian responden yang melakukannya, lantas dihubungkan dengan faktor lainnya atau yang berhubungan dengan kasus ini.
Ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan ‘presenteeism’. Kesehatannya yang menurun atau sakit secara umum, kendala dari aturan absen kantor (misal ketatnya peraturan absen, punya rasa ketidakamanan dalam hal pekerjaannya), tuntutan pekerjaan dan rasa mengalami stres, kekurangan pekerjaan dan sumber daya pekerja (misal kurangnya dukungan dan rendahnya optimisme), plus pengalaman hubungan negatif (misalnya merasa ada diskriminasi).
Meskipun begitu, sebaliknya, perilaku positif (kepuasan, perjanjian, komitmen), juga termasuk dalam penyebab kasus di atas.
So, jika Anda merupakan salah satu dari yang pernah menjalani pengalaman ini alias presenteeism maka Anda pasti juga mengalami salah satu dari dua hal ini.
1. Anda memiliki kecenderungan stres yang tinggi karena tuntutan pekerjaan di bahu Anda, lalu juga tekanan secara finansial, atau munculnya konflik yang bisa terjadi di rumah bahkan di kantor. Atau
2. Anda benar-benar mencintai pekerjaan Anda.
Adapun Dr. Miraglia tidak menyarankan Anda pergi berangkat untuk bekerja ke kantor saat dalam keadaan sakit.
“Bekerja saat sakit, malah dapat menggabungkan berbagai efek dari awal datangnya penyakit dan menghasilkan sikap kerja negatif serta mengundurkan diri dari sebuah pekerjaan,” kata sang dokter.
Selain itu sang dokter juga memberi saran kepada para empunya perusahaan, untuk menghindarkan diri dari kebijakan pembuatan peraturan absen pekerja yang ketat.
“Perusahaan mungkin meraih keuntungan dari pekerjaan yang dirancang dengan baik yang membatasi tingkat tuntutan kepada karyawan setiap harinya. Misalnya dengan mengurangi beban kerja yang berlebihan, tekanan waktu hingga kerja lembur. Serta memastikan bahwa mereka memiliki sumber daya yang mereka butuhkan,” kata sang dokter menyarankan.
Nah bagaimana, bukankah sebaiknya saat Anda tidak merasa sehat, akan lebih baik beristirahat di rumah? Rekan kerja Anda di kantor pasti akan berterima kasih kepada Anda untuk itu, ketimbang nantinya akan menularkan penyakit dan gairah bekerja yang lesu!
Dengan kata lain, Anda adalah salah satu orang yang mana menghabiskan sekitar 157 hari kerja di kantor sambil mengusap hidung karena flu, dan mengumbar virus itu kepada rekan kerja Anda, bukan begitu?
Banyak orang di Inggris bilang, itu diungkapkan dengan julukan ‘presenteeism’ alias cuma sekedar agar tampak hadir di kantor alias ‘cuma syarat’ agar terlihat bos.
Beberapa ilmuwan di Inggris seperti dilansir dari situs metro.co.uk ternyata telah menganalisis sekitar 61 hasil penelitian dari 34 negara berbeda di dunia, untuk mencari tahu apa yang dikatakan soal kasus di atas.
Yang membuat menarik ialah mengapa beberapa orang tetap memaksakan dirinya bekerja ketika mereka sakit, sementara yang lainnya justru saat mengalami itu malah beristirahat di rumahnya.
Dr. Mariella Miraglia dari University of East Anglia dan Gary Johns dari Concordia University menganalisa data riset yang telah disediakan oleh lebih dari 175 ribu orang.
Mereka pertama mengidentifikasi alasan utama dari ungkapan ‘presenteeism’ tersebut dan kemudian kepribadian responden yang melakukannya, lantas dihubungkan dengan faktor lainnya atau yang berhubungan dengan kasus ini.
Ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan ‘presenteeism’. Kesehatannya yang menurun atau sakit secara umum, kendala dari aturan absen kantor (misal ketatnya peraturan absen, punya rasa ketidakamanan dalam hal pekerjaannya), tuntutan pekerjaan dan rasa mengalami stres, kekurangan pekerjaan dan sumber daya pekerja (misal kurangnya dukungan dan rendahnya optimisme), plus pengalaman hubungan negatif (misalnya merasa ada diskriminasi).
Meskipun begitu, sebaliknya, perilaku positif (kepuasan, perjanjian, komitmen), juga termasuk dalam penyebab kasus di atas.
So, jika Anda merupakan salah satu dari yang pernah menjalani pengalaman ini alias presenteeism maka Anda pasti juga mengalami salah satu dari dua hal ini.
1. Anda memiliki kecenderungan stres yang tinggi karena tuntutan pekerjaan di bahu Anda, lalu juga tekanan secara finansial, atau munculnya konflik yang bisa terjadi di rumah bahkan di kantor. Atau
2. Anda benar-benar mencintai pekerjaan Anda.
Adapun Dr. Miraglia tidak menyarankan Anda pergi berangkat untuk bekerja ke kantor saat dalam keadaan sakit.
“Bekerja saat sakit, malah dapat menggabungkan berbagai efek dari awal datangnya penyakit dan menghasilkan sikap kerja negatif serta mengundurkan diri dari sebuah pekerjaan,” kata sang dokter.
Selain itu sang dokter juga memberi saran kepada para empunya perusahaan, untuk menghindarkan diri dari kebijakan pembuatan peraturan absen pekerja yang ketat.
“Perusahaan mungkin meraih keuntungan dari pekerjaan yang dirancang dengan baik yang membatasi tingkat tuntutan kepada karyawan setiap harinya. Misalnya dengan mengurangi beban kerja yang berlebihan, tekanan waktu hingga kerja lembur. Serta memastikan bahwa mereka memiliki sumber daya yang mereka butuhkan,” kata sang dokter menyarankan.
Nah bagaimana, bukankah sebaiknya saat Anda tidak merasa sehat, akan lebih baik beristirahat di rumah? Rekan kerja Anda di kantor pasti akan berterima kasih kepada Anda untuk itu, ketimbang nantinya akan menularkan penyakit dan gairah bekerja yang lesu!
(sbn)