SICF Bakal Hadirkan Makanan Tradisional Tanpa Micin di Solo
Rabu, 22 Maret 2017 - 02:30 WIB
SICF Bakal Hadirkan Makanan Tradisional Tanpa Micin di Solo
A
A
A
SOLO - Solo Indonesia Culinary Festival (SICF) kembali hadir di Kota Solo pada 6—9 April mendatang. Perhelatan yang akan digelar di area Stadion Manahan, Solo, ini bakal menghadirkan masakan tradisional yang sehat tanpa bahan kimia MSG (micin).
Ketua Panitia SICF 2017 Daryono mengatakan, pihaknya sengaja membawa tema makanan tradisional yang sehat tanpa bahan kimia. Dalam perhelatan yang sudah empat kali dilaksanakan, nantinya bakal ditampilkan bagaimana memasak menggunakan bahan bahan alami yang bebas dari unsur kimia.
“MSG atau micin akan diganti dengan bumbu bumbu dari rempah rempah,” ungkap Daryono.
Ajang ini sekaligus digunakan sebagai sosialisasi bahwa bumbu bumbu masakan warisan nenek moyang yang alami sangat baik untuk kesehatan. Diharapkan, ke depannya acara ini akan mendorong masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.
SICF bakal menampilkan ragam kuliner tradisional masyarakat Jawa. Tak ketinggalan, dapur tempo dulu berikut alat alat masaknya juga akan ditampilkan dalam festival. Tercatat ada sekitar 120 booth kuliner yang meramaikan festival.
“Nantinya juga ditampilkan sajian festival yang mengangkat kuliner unggulan Solo,” ujar dia.
Terlebih Kota Solo telah ditetapkan sebagai destinasi kuliner nomor satu di Indonesia. Di ajang ini terdapat banyak festival makanan seperti festival tengkleng, festival kue putu, festival sate kere, festival gempol pleret, dan festival brambang asem.
Festival nantinya juga diselenggarakan lomba cethik geni. Ini merupakan ketrampilan memasak mulai dari menghidupkan api dari tungku di dapur hingga mengolah makanan dengan perlengkapan dan peralatan tradisional. Kompetisi rencananya diikuti forum komunikasi pimpinan daerah (forkompinda), DPRD, pimpinan BUMN, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), hingga public relation (PR) hotel.
Wakil Ketua Indonesia Chef Association (ICA) Surakarta Budi Utomo mengatakan, pihaknya akan melakukan demo masak, dan membuat bumbu bumbu dari bahan bahan rempah rempah. “Kami ingin mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda yang belum banyak mengenal hebatnya resep makanan tradisional,” kata dia.
Ketua Panitia SICF 2017 Daryono mengatakan, pihaknya sengaja membawa tema makanan tradisional yang sehat tanpa bahan kimia. Dalam perhelatan yang sudah empat kali dilaksanakan, nantinya bakal ditampilkan bagaimana memasak menggunakan bahan bahan alami yang bebas dari unsur kimia.
“MSG atau micin akan diganti dengan bumbu bumbu dari rempah rempah,” ungkap Daryono.
Ajang ini sekaligus digunakan sebagai sosialisasi bahwa bumbu bumbu masakan warisan nenek moyang yang alami sangat baik untuk kesehatan. Diharapkan, ke depannya acara ini akan mendorong masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.
SICF bakal menampilkan ragam kuliner tradisional masyarakat Jawa. Tak ketinggalan, dapur tempo dulu berikut alat alat masaknya juga akan ditampilkan dalam festival. Tercatat ada sekitar 120 booth kuliner yang meramaikan festival.
“Nantinya juga ditampilkan sajian festival yang mengangkat kuliner unggulan Solo,” ujar dia.
Terlebih Kota Solo telah ditetapkan sebagai destinasi kuliner nomor satu di Indonesia. Di ajang ini terdapat banyak festival makanan seperti festival tengkleng, festival kue putu, festival sate kere, festival gempol pleret, dan festival brambang asem.
Festival nantinya juga diselenggarakan lomba cethik geni. Ini merupakan ketrampilan memasak mulai dari menghidupkan api dari tungku di dapur hingga mengolah makanan dengan perlengkapan dan peralatan tradisional. Kompetisi rencananya diikuti forum komunikasi pimpinan daerah (forkompinda), DPRD, pimpinan BUMN, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), hingga public relation (PR) hotel.
Wakil Ketua Indonesia Chef Association (ICA) Surakarta Budi Utomo mengatakan, pihaknya akan melakukan demo masak, dan membuat bumbu bumbu dari bahan bahan rempah rempah. “Kami ingin mengedukasi masyarakat, terutama generasi muda yang belum banyak mengenal hebatnya resep makanan tradisional,” kata dia.
(alv)