Awas, Anak Sering Dipuji Cenderung Suka Menyontek Saat Ujian
Jum'at, 22 September 2017 - 00:22 WIB
Awas, Anak Sering Dipuji Cenderung Suka Menyontek Saat Ujian
A
A
A
JAKARTA - Berkat kemampuan sang buah hati, para orang tua kerap memberikan pujian. Sayangnya kebiasaan ini dinilai tidak tepat. Sebuah penelitian yang dipublikasikan Pscychological Science menemukan bahwa kebiasaan ini memiliki kecenderungan untuk menyontek saat ujian.
Penelitian yang dipimpin Carol Dweck dari Stanford ini menghabiskan 40 tahun meneliti perkembangan pola pikir yang membuktikan, bahwa anak yang dipuji karena usahanya dibandingkan kemampuanya lebih cenderung untuk sukses karena lebih termotivasi. Hal ini dapat mempengaruhi anak usia lebih muda dibandingkan teori sebelumnya.
Dilansir dari The Independent, teori tersebut menyebutkan bahwa anak berusia tiga tahun lebih menunjukkan tanda ketidakjujuran saat menerima pujian atas usaha akademisnya. "Hal yang umum dan alamiah untuk mengatakan pada anak betapa pintar mereka," papar rekan peneliti Gail Heyman.
Dalam penelitian ini, peneliti memberikan pertanyaan pada 300 anak-anak. Di mana setengahnya berusia tiga tahun dan setengahnya lagi berusia lima tahun di Timur China untuk ambil bagian dalam permainan menebak. Beberapa anak dipuji karena kepintarannya, sisanya dipuji karena usahanya dan lainnya tidak dipuji sama sekali.
Selanjutnya, anak-anak yang dipuji diminta untuk berjanji tidak menyontek oleh peneliti dan meninggalkan ruangan melalui tempat permainan. Terdapat kamera tersembunyi yang mendokumentasikan anak-anak tersebut yang menyontek dan mencondongkan badannya untuk melihat jawaban yang ditinggalkan di meja lainnya.
"Anak-anak yang disebut pintar, atau orang lain berpikir mereka pintar, kemungkinan besar mengalami tekanan besar untuk melakukan yang terbaik yang bisa memicu mereka berbuat curang," kata Kang Lee.
Penelitian yang dipimpin Carol Dweck dari Stanford ini menghabiskan 40 tahun meneliti perkembangan pola pikir yang membuktikan, bahwa anak yang dipuji karena usahanya dibandingkan kemampuanya lebih cenderung untuk sukses karena lebih termotivasi. Hal ini dapat mempengaruhi anak usia lebih muda dibandingkan teori sebelumnya.
Dilansir dari The Independent, teori tersebut menyebutkan bahwa anak berusia tiga tahun lebih menunjukkan tanda ketidakjujuran saat menerima pujian atas usaha akademisnya. "Hal yang umum dan alamiah untuk mengatakan pada anak betapa pintar mereka," papar rekan peneliti Gail Heyman.
Dalam penelitian ini, peneliti memberikan pertanyaan pada 300 anak-anak. Di mana setengahnya berusia tiga tahun dan setengahnya lagi berusia lima tahun di Timur China untuk ambil bagian dalam permainan menebak. Beberapa anak dipuji karena kepintarannya, sisanya dipuji karena usahanya dan lainnya tidak dipuji sama sekali.
Selanjutnya, anak-anak yang dipuji diminta untuk berjanji tidak menyontek oleh peneliti dan meninggalkan ruangan melalui tempat permainan. Terdapat kamera tersembunyi yang mendokumentasikan anak-anak tersebut yang menyontek dan mencondongkan badannya untuk melihat jawaban yang ditinggalkan di meja lainnya.
"Anak-anak yang disebut pintar, atau orang lain berpikir mereka pintar, kemungkinan besar mengalami tekanan besar untuk melakukan yang terbaik yang bisa memicu mereka berbuat curang," kata Kang Lee.
(alv)