Bisa Dicoba Teknologi Sunat dengan Minim Rasa Nyeri
Kamis, 16 November 2017 - 08:31 WIB
Bisa Dicoba Teknologi Sunat dengan Minim Rasa Nyeri
A
A
A
JAKARTA - Isu nyeri masih menjadi momok sekaligus penghalang dilakukannya sirkumsisi/sunat. Nyeri saat sirkumsisi menjadi kekhawatiran tersendiri bagi anak-anak termasuk bagi pria dewasa. Sunat tanpa suntik bisa jadi solusinya.
Sirkumsisi beberapa tahun terakhir menarik perhatian luar biasa dunia Barat. Bukti-bukti ilmiah akan man sirkumsisi dari sisi media secara jelas disampaikan. Sebut saja mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran, mengurangi risiko penularan penyakit menular seksual terutama pada laki-laki, mencegah terjadinya kanker penis dan mengurangi risiko kanker serviks pada perempuan (partner seksual), serta mencegah penularan infeksi HPV dan HIV.
Kendati memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa, isu nyeri masih menjadi momok bagi mereka yang ingin disunat. “Bayangan akan rasa nyeri atau fobia ketika jarum menembus kulit menjadi salah satu keluhan utama,” papar psikolog anak Firesta Farizal, M.Psi dalam acara Revolusi Sirkumsisi Tanpa Jarum Suntik (14/11/2017).
Pada mereka kelompok individu yang demikian, tentunya kepatuhan seseorang untuk menerima pengobatan yang memang harus diberikan melalui media jarum suntik menjadi menurun.
Di sisi lain, cost yang dikeluarkan untuk pembiayaan jarum suntik sekali pakai juga cukup besar. Nyeri saat sirkumsisi pada pria dewasa umumnya diakibatkan karena prosedur anastesi lokal yang sering tidak adekuat. Bahkan untuk menghindari rasa nyeri ini, di Amerika Serikat tindakan sirkumsisi dewasa banyak dilakukan melalui prosedur anastesi umum, ini tentunya menyebabkan pembiayaan yang lebih tinggi pada tindakan sirkumsisi.
Pada tahun 2009, Yifeng Peng dan kawan-kawan mencoba meneliti efektivitas needle free injection dalam prosedur anastesi sirkumsisi di China. Penelitiannya ini dilakukan antara bukan Juni-september 2009, dan telah dipublikasikan di Jurnal of Urology September 2010 dengan melibatkan 60 pria dewasa. Sebanyak 85% partisipan merasa puas dengan teknologi needle free injection ini tanpa membutuhkan anastesi tambahan dalam menghilangkan nyeri saat sirkumsisi.
Rumah Sunatan Indonesia mengadopsi teknologi needle free injection asal Korea. Alat ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu alat semprot cairan anastesi yang terbuat dari kaca dengan dengan ukuran, injektor, dan pompa injektor. Injektor menggunakan tenaga npegas yang dapat disesuaikan kekuatan penetrasi ke kulit sesuai kebutuhan. Menggunakan bantuan pompa injektor alat ini akan memberikan tekanan pada alat penyemprot yang berisi cairan anastesi. Obat anastesi akan lebih mudah diserap dan menyebar lebih baik menggunakan teknologi needle free injection dibandingkan penggunaan jarum suntik konvensional.
“Dengan teknologi ini waktu capai analgesia pasien sunat menjadi lebih cepat, tanpa menimbulkan cidera jaringan dan tanpa rasa sakit,” ungkap pendiri Rumah Sunatan dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS.
Teknologi bebas jarum suntik ini juga digunakan saat melepaskan klem yang merupakan teknologi modern sirkumsisi. Kombinasi keduanya menghasilkan perpaduan luar biasa, sunat terbebas dari nyeri, dapat langsung beraktivitas, proses penyembuhan cepat, tanpa jahitan, dengan hasil estetik pasca sunat.
“Layanan ini dihadirkan agar pasien merasa nyaman,” beber Achmad Syarif Kurniawan, Kepala Divisi Operasional Rumah Sunatan. Sunat merupakan proses memorable yang hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup. “Jadi sebisa mungkin pengalaman sunat ini bukan menjadi pengalaman yang buruk bagi anak,” kata Firesta.
Lebih lanjut, orang tua akan lebih mudah menyiapkan anak untuk menjalani proses sirkumsisi ini. Teknologi sirkumsisi bebas jarum suntik ini dipandang akan meningkatkan kenyamanan anak menjalani proses sirkumsisi.
Klinik sirkumsisi tersebut saat ini sudah memiliki 40 cabang dengan teknologi modern untuk tujuan anastesi sirkumsisi. Penerapan inovasi baru di bidang sunat seperti metode Clamp Dan sunat tanpa suntik menjadi bagian peningkatan kualitas layanan klinik itu. The American Psychiatric Association mengatakan fobia jarum suntik mempengaruhi sekira 10% populasi dunia. Besarnya populasi ini menjadikan beberapa perusahaan alat kes berlomba-lomba melakukan inovasi mulai dari memperkecil ukuran jarum suntik untuk mengurangi rasa nyeri hingga tekno terkini suntikan tanpa jarum. (Sri Noviarni)
Sirkumsisi beberapa tahun terakhir menarik perhatian luar biasa dunia Barat. Bukti-bukti ilmiah akan man sirkumsisi dari sisi media secara jelas disampaikan. Sebut saja mengurangi risiko terjadinya infeksi saluran, mengurangi risiko penularan penyakit menular seksual terutama pada laki-laki, mencegah terjadinya kanker penis dan mengurangi risiko kanker serviks pada perempuan (partner seksual), serta mencegah penularan infeksi HPV dan HIV.
Kendati memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa, isu nyeri masih menjadi momok bagi mereka yang ingin disunat. “Bayangan akan rasa nyeri atau fobia ketika jarum menembus kulit menjadi salah satu keluhan utama,” papar psikolog anak Firesta Farizal, M.Psi dalam acara Revolusi Sirkumsisi Tanpa Jarum Suntik (14/11/2017).
Pada mereka kelompok individu yang demikian, tentunya kepatuhan seseorang untuk menerima pengobatan yang memang harus diberikan melalui media jarum suntik menjadi menurun.
Di sisi lain, cost yang dikeluarkan untuk pembiayaan jarum suntik sekali pakai juga cukup besar. Nyeri saat sirkumsisi pada pria dewasa umumnya diakibatkan karena prosedur anastesi lokal yang sering tidak adekuat. Bahkan untuk menghindari rasa nyeri ini, di Amerika Serikat tindakan sirkumsisi dewasa banyak dilakukan melalui prosedur anastesi umum, ini tentunya menyebabkan pembiayaan yang lebih tinggi pada tindakan sirkumsisi.
Pada tahun 2009, Yifeng Peng dan kawan-kawan mencoba meneliti efektivitas needle free injection dalam prosedur anastesi sirkumsisi di China. Penelitiannya ini dilakukan antara bukan Juni-september 2009, dan telah dipublikasikan di Jurnal of Urology September 2010 dengan melibatkan 60 pria dewasa. Sebanyak 85% partisipan merasa puas dengan teknologi needle free injection ini tanpa membutuhkan anastesi tambahan dalam menghilangkan nyeri saat sirkumsisi.
Rumah Sunatan Indonesia mengadopsi teknologi needle free injection asal Korea. Alat ini terdiri dari tiga komponen utama yaitu alat semprot cairan anastesi yang terbuat dari kaca dengan dengan ukuran, injektor, dan pompa injektor. Injektor menggunakan tenaga npegas yang dapat disesuaikan kekuatan penetrasi ke kulit sesuai kebutuhan. Menggunakan bantuan pompa injektor alat ini akan memberikan tekanan pada alat penyemprot yang berisi cairan anastesi. Obat anastesi akan lebih mudah diserap dan menyebar lebih baik menggunakan teknologi needle free injection dibandingkan penggunaan jarum suntik konvensional.
“Dengan teknologi ini waktu capai analgesia pasien sunat menjadi lebih cepat, tanpa menimbulkan cidera jaringan dan tanpa rasa sakit,” ungkap pendiri Rumah Sunatan dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS.
Teknologi bebas jarum suntik ini juga digunakan saat melepaskan klem yang merupakan teknologi modern sirkumsisi. Kombinasi keduanya menghasilkan perpaduan luar biasa, sunat terbebas dari nyeri, dapat langsung beraktivitas, proses penyembuhan cepat, tanpa jahitan, dengan hasil estetik pasca sunat.
“Layanan ini dihadirkan agar pasien merasa nyaman,” beber Achmad Syarif Kurniawan, Kepala Divisi Operasional Rumah Sunatan. Sunat merupakan proses memorable yang hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup. “Jadi sebisa mungkin pengalaman sunat ini bukan menjadi pengalaman yang buruk bagi anak,” kata Firesta.
Lebih lanjut, orang tua akan lebih mudah menyiapkan anak untuk menjalani proses sirkumsisi ini. Teknologi sirkumsisi bebas jarum suntik ini dipandang akan meningkatkan kenyamanan anak menjalani proses sirkumsisi.
Klinik sirkumsisi tersebut saat ini sudah memiliki 40 cabang dengan teknologi modern untuk tujuan anastesi sirkumsisi. Penerapan inovasi baru di bidang sunat seperti metode Clamp Dan sunat tanpa suntik menjadi bagian peningkatan kualitas layanan klinik itu. The American Psychiatric Association mengatakan fobia jarum suntik mempengaruhi sekira 10% populasi dunia. Besarnya populasi ini menjadikan beberapa perusahaan alat kes berlomba-lomba melakukan inovasi mulai dari memperkecil ukuran jarum suntik untuk mengurangi rasa nyeri hingga tekno terkini suntikan tanpa jarum. (Sri Noviarni)
(nfl)