Puthul, Kuliner Ekstrem Gunungkidul di Awal Musim Hujan

Sabtu, 24 November 2018 - 05:31 WIB
Puthul, Kuliner Ekstrem...
Puthul, Kuliner Ekstrem Gunungkidul di Awal Musim Hujan
A A A
GUNUNGKIDUL - Bukan hanya menyajikan keindahan objek wisata, Kabupaten Gunungkidul juga mempunyai banyak kuliner ekstrem. Selain belalang, jangkrik, kepompong dan kelelawar, ada satu lagi makanan ekstrem musiman yang layak dicoba, yakni puthul.

Puthul merupakan hewan sejenis kumbang yang muncul di awal musim penghujan, dan sudah menjadi makanan alternatif. Hewan yang biasa muncul di malam hari dan di dedaunan ini diburu warga untuk diolah menjadi makanan untuk lauk.

Meski dipandang menjijikkan oleh sebagian orang, namun rasa puthul ini tidak kalah dengan belalang. Bahkan, lebih empuk dan menjadi lebih nikmat jika disajikan dengan bumbu bacem goreng.

Suharni, salah satu warga di desa Ngawu, Kecamatan Playen menuturkan, dirinya setiap habis maghrib berusaha berburu puthul. Setiap satu kilogram, dia masak dan dijual dengan harga Rp60 ribu. "Mencarinya juga mudah. Hanya saja munculnya di awal musim hujan saja. Nanti hilang juga," tuturnya kepada wartawan, Jumat (23/11).

Dengan munculnya puthul, kata Suharni, dirinya bisa meraup keuntungan yang lumayan besar. "Saya pernah jual sampai dua kilogram. Kadang satu kilogram," ungkapnya.

Diakuinya, setiap kali berburu puthul, dirinya menghabiskan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Hasil berburu puthul ini tidak hanya dijual oleh Suharni, namun juga untuk lauk yang disantap bersama tiga anak laki-lakinya.

Sementara itu, pengamat pertanian di Gunungkidul, Supriyadi menerangkan, puthul merupakan hama yang mengganggu tanaman pertanian. Hewan ini ketika masih menjadi larva sering menyerang akar tanaman padi yang disebut uret. Puthul memiliki nama latin Phyllophaga Hellery, merupakan famili Scarabaeidae, sub famili Melolonthinae dari Ordo Coleoptera.

"Puthul akan bertelur di dalam tanah. Lalu menetas menjadi uret bersamaan dengan perkembangan padi. Uret berkembang baik yaitu di tempat yang banyak mengandung bahan organik. Setelah itu, uret masuk ke dalam tanah, dan lamanya uret di dalam tanah sekitar 4-6 bulan. Lalu muncullah puthul," ucapnya.
(nug)
Berita Terkait
Gopek House, Lestarikan...
Gopek House, Lestarikan Kelezatan Kuliner Indonesia Peranakan melalui Pengalaman Kuliner Unik
Kolaborasi Budaya Indonesia...
Kolaborasi Budaya Indonesia dan Malaysia dalam Festival Kita Serumpun
Sarirasa Group Melalui...
Sarirasa Group Melalui Pantura Ungkap Kembali Perjalanan Rasa Jawa yang Terlupakan
Bantu Bisnis Kuliner...
Bantu Bisnis Kuliner Skala UKM, Endeus Gelar Cooking Class Virtual Gratis!
7 Makanan Paling Populer...
7 Makanan Paling Populer Khas Dayak, Salah Satunya Tempoyak dari Durian yang Difermentasi
5 Wisata Kuliner di...
5 Wisata Kuliner di Solo dan Sekitarnya, Sayang kalau Dilewatkan
Berita Terkini
Sooyoung SNSD dan Jung...
Sooyoung SNSD dan Jung Kyung-ho Putus setelah 14 Tahun Pacaran
11 menit yang lalu
Grillz Mawar Biru Jennie...
Grillz Mawar Biru Jennie BLACKPINK Jadi Perbincangan, Ada yang Menyebut Mirip Gigi Berlubang
46 menit yang lalu
Cari Tontonan Plot Twist?...
Cari Tontonan Plot Twist? Ini 5 Microdrama V+Short yang Wajib Masuk Watchlist
1 jam yang lalu
Video Persalinan Amanda...
Video Persalinan Amanda Manopo dan Baby Zac Viral, Ucapan soal Anak Kedua Curi Perhatian
1 jam yang lalu
Solusi Tepat Menghadapi...
Solusi Tepat Menghadapi Situasi Mendadak dalam Perjalanan Bisnis
2 jam yang lalu
Thariq Halilintar dan...
Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya Terkait Kasus Hanania Travel
2 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved