Pameran Terakhir Amrus Natalsya Angkat Tema Sosial

Rabu, 10 Juli 2019 - 17:03 WIB
Pameran Terakhir Amrus...
Pameran Terakhir Amrus Natalsya Angkat Tema Sosial
A A A
JAKARTA - Amrus Natalsya dikenal dengan karyanya ‘Orang Buta yang Terlupakan’ yang dibeli Presiden Soekarno pada 1955 ketika dipamerkan dalam "LUSTRUM Pertama Asri" di Sono Budoyo, Yogyakarta. Melewai masa itu, pelukis dan pematung Indonesia itu menggelar pameran tunggalnya “Terakhir, Selamat Tinggal dan Terima Kasih”.

Pameran yang merupakan hasil kerja sama Taman Ismail Marzuki dan Etty Mustafa Art Collection yang berlangsung di Galeri Cipta II TIM, mulai 14 Juli hingga 23 Juli 2019 ini merupakan pameran terakhirnya. Etty Mustafa mengatakan sang perupa beraliran revolutionary realism ini menutup pamerannya karena usianya yang sudah tidak muda lagi.

“Di dalam pameran ini Amrus Natalsya akan menampilkan sekitar 50 karya-karyanya yang banyak mengangkat tema social, seperti lukisan kanvas dan lukisan pahat bertema pasar, Pecinan dan patung kapal Nuh,” kata Etty.

Pameran akan dihadiri tokoh Sanggar Bumi Tarung, seperti Misbach Thamrin dan dibuka oleh Gubernur DKI Anies Baswedan. Salah satu kurator seni Indonesia Agus Dermawan mengatakan lukisan karya Amrus memiliki ciri khas yang dinilainya menemukan jejak-jejak traditional.

“Pameran tunggal ini adalah bukti keberadaan (eksistensi) Sanggar Bumi tarung dalam sejarah seni rupa indonesia sejak 58 tahun yang silam. Ketika pendirinya Amrus natalsya berumur 28 tahun saat itu,” tuturnya.

Di sisi lain, Kurator pameran Mahardika Yudha mengatakan proyek seni kehidupan masyarakat di pecinan adalah salah satu karya Amrus Natalsya yang kembangkan sejak reformasi 1998. Tema ini dipilih sebagai bentuk empatinya pada situasi masyarakat Indonesia ketika terjadi saat peristiwa Mei 1998.

Amrus memang dikenal sebagai seniman yang mengangkat tema sosial. Temanya ini bahkan membuat Amrus dikenal hingga mancanegara hingga dia melakukan beragam pameran, baik di Indonesia atau di luar negeri, sebut saja Pameran tunggal di Taman Merdeka Utara, Jakarta (1955); Pameran Lukisan di Wina, Austria (1955); Pameran "Konferensi Asia Afrika" di Bandung (1955). Pernah juga membuat Pameran Patung Kontemporer "Trienale Jakarta II" (1998); hingga Pameran tunggal “Kampung dan Metropolitan” di Galeri 678, Jakarta.
(tdy)
Berita Terkait
Bangun dan Revitalisasi...
Bangun dan Revitalisasi Sistem Pendidikan Seni dan Budaya lewat ODA
Art Love U Fest 2024:...
Art Love U Fest 2024: Bertemunya Seni dan Cinta di JDC
Menghidupkan Budaya...
Menghidupkan Budaya dan Kebersamaan dalam Bedhayan Topeng Abdi Sekartaji
Ruang Cinta Yang Tersisa,...
Ruang Cinta Yang Tersisa, Seni dan Kita di JDC
Galeri Nasional Kembali...
Galeri Nasional Kembali Dibuka dengan Prosedur Kunjungan Baru
Pecah, Puluhan Ribu...
Pecah, Puluhan Ribu Orang Padati Sakura Matsuri 2025 di Jababeka
Berita Terkini
Sinopsis dan Link Nonton...
Sinopsis dan Link Nonton Pitch Perfect 3 di VISION+
7 menit yang lalu
Pecah Banget! Serunya...
Pecah Banget! Serunya Kuis iNews Media Group di Jakarta Fair, Ribuan Penonton Rela Antre Demi Hadiah
17 menit yang lalu
Tangis Celine Evangelista...
Tangis Celine Evangelista saat Antar Jemima Guri ke Pesantren
49 menit yang lalu
350 Spesies Seafood...
350 Spesies Seafood Dicoret dari Menu Jaringan Hotel Global demi Selamatkan Laut
1 jam yang lalu
Microdrama Time Traveling...
Microdrama Time Traveling The Young Marshal, Kisah Pemuda yang Kembali ke Era Republic of China
2 jam yang lalu
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama Dragon Kings Sanctuary di V+Short, Kisah War God yang Dikhianati Cinta
2 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved