Setiap 40 Detik Ada Orang Bunuh Diri, Jangan Anggap Remeh Depresi

Jum'at, 17 Januari 2020 - 09:08 WIB
Setiap 40 Detik Ada...
Setiap 40 Detik Ada Orang Bunuh Diri, Jangan Anggap Remeh Depresi
A A A
WHO menyebutkan bahwa setiap 40 detik terdapat satu orang bunuh diri di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia ini, bunuh diri sudah menjadi fenomena global. Berdasarkan data Organisation for Economic Co-operation and Development, Korea Selatan merupakan negara dengan jumlah kasus bunuh diri tertinggi di dunia.

Indonesia sendiri berada di urutan 159. Artinya, kasus bunuh diri di Indonesia cukup rendah. Depresi bisa menjadi pemicu tindakan bunuh diri. Menurut dr Ayu Agung Kusumawardhani SpKJ (K), dokter spesialis kesehatan jiwa dari RSCM, depresi adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami penurunan mood atau alam perasaan.

Penurunan mood yang dialami penderita depresi sangat bermakna hingga menyebabkan ketidaknyamanan dan gangguan dalam beraktivitas. “Gejala klinisnya tidak hanya penurunan mood , tetapi juga diikuti penurunan kemampuan berpikir. Proses pikirnya melambat, tidak bisa berkonsentrasi, pesimis, semua situasi di pandang dari sudut negatif,” ujar dr Agung.

Penyebab depresi bisa karena faktor biologis, faktor eksternal, atau keduanya. Faktor biologis berarti ada masalah dalam regulasi neurohormon berupa ketidakseimbangan hormon serotonin di otak.

Sementara itu, faktor eksternal disebabkan lingkungan atau situasi luar yang menyebabkan seseorang merasa putus asa. “Namun, kalaupun faktor eksternal menjadi penyebab utama depresi berat, itu biasanya memang sudah ada faktor biologisnya,” kata dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) ini.

Pikiran bunuh diri dan menyakiti diri sendiri merupakan komplikasi depresi berat yang perlu diwaspadai. Pada umumnya, pikiran bunuh diri muncul ketika penderita depresi sudah putus asa dan berpikir mengakhiri hidup merupakan solusi tepat. “Ini harus selalu kita deteksi pada pasien. Begitu dia ada ide atau pikiran untuk mati saja, ini sudah kita kategorikan sebagai depresi berat,” ucap dr Agung. (Sri Noviarni)
(ysw)
Berita Terkait
Aksi Bikin Onar Yudo...
Aksi Bikin Onar Yudo Andreawan di Tempat Umum, Apa Kata Ahli Kesehatan Mental?
5 Cara Meningkatkan...
5 Cara Meningkatkan Kesehatan Mental, Salah Satunya Berbagi dengan Orang Lain
13 Tanda Seseorang Miliki...
13 Tanda Seseorang Miliki Masalah Kesehatan Mental
ESQ Ajak Siswa Peduli...
ESQ Ajak Siswa Peduli Kesehatan Mental, Salah Satunya Jadi Pendengar yang Baik
Jakarta Childrens Growth...
Jakarta Children's Growth Center dan Jakarta Adult Psychology Center One Stop Solution Kesehatan Mental
Jaga Kesehatan Mental...
Jaga Kesehatan Mental dengan Cerdik, Begini Caranya
Berita Terkini
MNC Life Dukung Jakarta...
MNC Life Dukung Jakarta Sky Fun Run 2026, Beri Perlindungan bagi Ribuan Peserta
2 jam yang lalu
Tampil Stylish Tak Harus...
Tampil Stylish Tak Harus Mahal, Ini 7 Tips Pilih Fashion Pria ala Kreator Konten Muhamad Sadam
2 jam yang lalu
Rencanakan Liburan Impian...
Rencanakan Liburan Impian Lebih Hemat: Diskon hingga Rp250.000
2 jam yang lalu
Princes Rules Broken?!,...
Prince's Rules Broken?!, Microdrama Time Traveling Terbaru di V+Short
2 jam yang lalu
The Missing Miracle...
The Missing Miracle Doctor, Microdrama Aksi Penuh Misteri, Cuma di V+Short
2 jam yang lalu
Indonesia Siapkan Bank...
Indonesia Siapkan Bank Plasma Nasional, Target Beroperasi pada 2027
3 jam yang lalu
Infografis
4 Pemain yang Mencetak...
4 Pemain yang Mencetak Gol Bunuh Diri di Piala Asia 2023
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved