Makin Ngetren di Jakarta, Berburu Sewa Biar Tak Mati Gaya
Kamis, 30 Januari 2020 - 06:05 WIB
Makin Ngetren di Jakarta, Berburu Sewa Biar Tak Mati Gaya
A
A
A
JAKARTA - Mutiara Morent Tanoto mematut diri di cermin memperhatikan gaun mewah rancangan desainer yang akan dia kenakan di sebuah acara resepsi keesokan hari. Setelah yakin dengan pilihannya tersebut, Mutiara lalu memutuskan untuk menyewa gaun itu selama empat hari ke depan.
Mahasiswi Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta jurusan Finance and Management ini lega karena angan-angan untuk memakai gaun pilihannya tersebut akhirnya ke sampaian. Tak kali ini saja sebenarnya Mutiara menyewa gaun. Dia sudah biasa bolak-balik fashion rental ini dalam satu tahun terakhir. Pilihan untuk datang ke fashion rental bukan kebetulan. Dengan cukup menyewa, Mutiara mengaku justru bisa terpenuhi segala kebutuhan fashionnya, termasuk merasakan baju-baju merek ternama. “Lemari jadi enggak penuh, banyak pilihan, bisa menyewa dari brand atau desainer terkenal, dan yang pasti harganya enggak mahal. Daripada beli, kan lebih boros,” ujar gadis yang pernah menduduki Wakil II Ratu Bunga 2015 ini.
Selain untuk acara resepsi pernikahan, Mutiara juga kerap menyewa gaun formal guna keperluan photo shoot pembuatan portofolio dirinya. Maklum, hobinya adalah modeling yang menuntutnya untuk tampil selalu berbeda.
Minatnya yang besar di dunia modeling membuat Mutiara tidak keberatan jika harus mengeluarkan biaya Rp600.000-Rp1.000.000 untuk sewa satu potong gaun.
Untuk memenuhi kebutuhan nya itu, Mutiara memilih Belsbee, aplikasi fashion rental, sebagai langganannya. Pamor Belsbee pun telah banyak dikenal, apalagi fashion rental yang berdiri sejak 2014 itu menyasar perempuan usia 16-30 tahun.
Lona Cindy, seorang ibu rumah tangga di Jakarta, mengaku rata-rata mengenakan baju yang sama untuk satu hingga dua kali saja. Baginya, penampilan yang selalu terlihat fresh dan tidak monoton adalah sebuah keharusan.
Dengan dasar inilah, dia akhirnya lebih nyaman dengan menyewa baju ketimbang beli sendiri. “Saya tipe bosanan kalau soal baju. Kalau beli mahal dan hanya dipakai 1-2 kali, lama-lama numpuk enggak jelas di lemari, lebih baik sewa. Kualitas dan servisnya oke banget dan bajunya bagus-bagus,” tutur ibu dua putri ini yang juga pe langgan Belsbee.
Fashion rental memang tengah naik daun. Bukan hanya busana formal semata, kini busana sehari-hari, tas, baju anak-anak, hingga busana hamil juga disewakan. Kehadiran bisnis ini tak lepas dari tren kaum milenial yang lebih suka menyewa ketimbang harus membeli barang. Umumnya konsumen merasa sayang mengeluarkan rupiah banyak untuk membeli busana yang mereka tidak akan pakai lama hanya untuk mengikuti mode terkini. Rental busana juga dipandang lebih ramah lingkungan selain me-mangkas biaya dan menghemat ruang di rumah. Terlebih kini ada keengganan untuk terlihat memakai baju yang sama beberapa kali. Kekhawatiran ada omongan seperti “bajunya kok pakai itu terus” membayangi mereka khususnya kaum hawa metropolitan.
Peningkatan tren sewa di kalangan milenial juga tergambar dari survei yang dilakukan KORAN SINDO. Dari survei ini ter ungkap, alasan terbesar kaum milenial menyewa adalah demi kepraktisan. Kemajuan teknologi digital saat ini memicu kaum milenial begitu dinamis. Untuk memenuhi kebutuhan, mereka tak ingin direpotkan dengan prosedur kepemilikan barang yang menguras waktu, biaya, dan tenaga.
Menurut pakar marketing Yus wohady, tren milenial yang serba efisien lebih banyak disebabkan oleh kondisi yang serba instan di masa kanak-kanak. Kondisi tersebut memungkinkan kalangan ini lebih berpikir praktis dan membandingkannya secara logis. “Jadi daripada beli rumah, mending tinggal di apartemen karena rumah itu juga butuh beli perabot yang banyak. Daripada beli mobil, mending naik taksi online karena enggak perlu parkir atau takut hilang, jadi pemikiran ini yang logis di kalangan milenial,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, ungkap Yuswo, juga ditunjang dengan era digitalisasi. Setiap hal yang ada pada milenial selalu bersangkut paut dengan digitalisasi. Dia meramalkan kondisi ini akan terus meningkat seiring dengan semakin masifnya digitalisasi yang ditawarkan pada gadget maupun segala hal yang serba cerdas (smart). “Ada smart TV dan smart-smart yang lain. Belum lagi artif icialintelligence (AI) yang sudah mulai banyak diperkenalkan. Bahkan era sepuluh tahun ke depan bakal serba AI,” ucapnya.
Era AI ini diperkirakan bakal semakin masif dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. “Era ini bahkan lebih dan akan sangat efisien dibanding tren milenial sekarang,” ujarnya.
Bisnis Mantel
Tidak terbatas pada busana formal atau sehari-hari saja, kini jasa penyewaan fashion berkembang luas hingga merambah ke bisnis penyewaan mantel. Jika hanya sesekali bepergian ke luar negeri dan harus membeli mantel, tentu tidaklah efisien. Kebiasaan menyewa mantel ini antara lain dilakukan Noverdi, karyawan swasta di Jakarta berusia 47 tahun ini. Sudah lima tahun terakhir, Noverdi selalu menyewa mantel jika bepergian ke luar negeri.
Pria yang hobi automotif ini mengaku tidak terlalu sering bepergian ke negara empat musim dengan keluarga, tapi tetap saja mereka harus siap dengan mantel masing-masing Untuk satu mantel, dia hanya membayar Rp450.000 dengan masa peminjaman selama dua minggu. “Saya lebih suka sewa untuk saya dan anak. Lebih efisien dan menghemat space di lemari,” katanya.
Dian Permana, pemilik Sewamantel.com, menargetkan konsumen berusia 25-60 tahun. “Paling banyak usia produktif yang menyewa, baik untuk liburan maupun perjalanan bisnis,” katanya. Animo penyewa untuk menyewa mantel, ujar Dian, pun cukup tinggi terutama saat musim dingin berlangsung mulai Oktober-Maret. Dalam sebulan mantel yang keluar dari outletnya bisa mencapai 5-8 potong.
Setali tiga uang, CEO Belsbee Arini Astari juga mengakui animo penyewa semakin hari semakin tinggi. Butiknya yang berada di kawasan Tebet, Jakarta Selatan itu setiap hari selalu disibukkan dengan pengiriman pakaian atau bahkan calon penyewa yang fitting langsung di tempat. “Saat ini pelanggannya kebanyakan di Jakarta. Dari luar Jakarta juga ada, tapi tidak banyak,” ujarnya.
Arini yakin prospek fashion rental ke depan semakin baik. Bagaimana tidak, fashion rental memberi kesempatan bagi penyewa untuk mengenakan gaun karya desainer kenamaan seperti Votum by Sebastian Gunawan, Barli Asmara, Asky Febrianti, dan sebagainya. Sebaliknya, platform digital ini menampung karya desainer muda sebagai salah satu channel pemasarannya.
Beragam alasan konsumen khususnya generasi milenial membuat bisnis rental semakin menjamur. Mereka tidak lagi ambil pusing dengan masalah kepemilikan. Arif (26) pekerja di Jakarta, misalnya telah memutuskan untuk tidak memiliki mobil meski tergolong mampu jika membelinya. Untuk sehari-hari dia cukup menggunakan motor. Jika harus bepergian jauh bersama istri dan anaknya, baru dia mengandalkan operator kendaraan online. Menurutnya, kendaraan online ini terbilang efisien. “Enggak perlu ngurus pajak atau pusing dengan biaya servisnya,” tutur Arif.
Bukan hanya mobil, rumah pun ia memilih untuk menyewa. Harga properti yang selangit membuat dirinya yang hanya pegawai biasa sulit untuk menjangkaunya.
Arif memiliki prinsip, selama masih bisa menyewa, tak perlulah ia mengeluarkan uang untuk membeli. Lebih baik ia alihkan pengeluaran untuk travelling bersama keluarga, mengajak mereka ke tempat yang belum pernah didatangi.
Tak hanya kendaraan, sewa-menyewa furnitur untuk mengisi rumah maupun apartemen kini juga mulai mewabah di Indonesia. Dengan hanya sewa, mereka tak ribet dengan urusan angkut-angkut pindah atau biaya pembelian yang terus meroket. Bahkan sewa perhiasan emas juga mulai muncul di Jakarta.
Mahasiswi Universitas Pelita Harapan (UPH) Jakarta jurusan Finance and Management ini lega karena angan-angan untuk memakai gaun pilihannya tersebut akhirnya ke sampaian. Tak kali ini saja sebenarnya Mutiara menyewa gaun. Dia sudah biasa bolak-balik fashion rental ini dalam satu tahun terakhir. Pilihan untuk datang ke fashion rental bukan kebetulan. Dengan cukup menyewa, Mutiara mengaku justru bisa terpenuhi segala kebutuhan fashionnya, termasuk merasakan baju-baju merek ternama. “Lemari jadi enggak penuh, banyak pilihan, bisa menyewa dari brand atau desainer terkenal, dan yang pasti harganya enggak mahal. Daripada beli, kan lebih boros,” ujar gadis yang pernah menduduki Wakil II Ratu Bunga 2015 ini.
Selain untuk acara resepsi pernikahan, Mutiara juga kerap menyewa gaun formal guna keperluan photo shoot pembuatan portofolio dirinya. Maklum, hobinya adalah modeling yang menuntutnya untuk tampil selalu berbeda.
Minatnya yang besar di dunia modeling membuat Mutiara tidak keberatan jika harus mengeluarkan biaya Rp600.000-Rp1.000.000 untuk sewa satu potong gaun.
Untuk memenuhi kebutuhan nya itu, Mutiara memilih Belsbee, aplikasi fashion rental, sebagai langganannya. Pamor Belsbee pun telah banyak dikenal, apalagi fashion rental yang berdiri sejak 2014 itu menyasar perempuan usia 16-30 tahun.
Lona Cindy, seorang ibu rumah tangga di Jakarta, mengaku rata-rata mengenakan baju yang sama untuk satu hingga dua kali saja. Baginya, penampilan yang selalu terlihat fresh dan tidak monoton adalah sebuah keharusan.
Dengan dasar inilah, dia akhirnya lebih nyaman dengan menyewa baju ketimbang beli sendiri. “Saya tipe bosanan kalau soal baju. Kalau beli mahal dan hanya dipakai 1-2 kali, lama-lama numpuk enggak jelas di lemari, lebih baik sewa. Kualitas dan servisnya oke banget dan bajunya bagus-bagus,” tutur ibu dua putri ini yang juga pe langgan Belsbee.
Fashion rental memang tengah naik daun. Bukan hanya busana formal semata, kini busana sehari-hari, tas, baju anak-anak, hingga busana hamil juga disewakan. Kehadiran bisnis ini tak lepas dari tren kaum milenial yang lebih suka menyewa ketimbang harus membeli barang. Umumnya konsumen merasa sayang mengeluarkan rupiah banyak untuk membeli busana yang mereka tidak akan pakai lama hanya untuk mengikuti mode terkini. Rental busana juga dipandang lebih ramah lingkungan selain me-mangkas biaya dan menghemat ruang di rumah. Terlebih kini ada keengganan untuk terlihat memakai baju yang sama beberapa kali. Kekhawatiran ada omongan seperti “bajunya kok pakai itu terus” membayangi mereka khususnya kaum hawa metropolitan.
Peningkatan tren sewa di kalangan milenial juga tergambar dari survei yang dilakukan KORAN SINDO. Dari survei ini ter ungkap, alasan terbesar kaum milenial menyewa adalah demi kepraktisan. Kemajuan teknologi digital saat ini memicu kaum milenial begitu dinamis. Untuk memenuhi kebutuhan, mereka tak ingin direpotkan dengan prosedur kepemilikan barang yang menguras waktu, biaya, dan tenaga.
Menurut pakar marketing Yus wohady, tren milenial yang serba efisien lebih banyak disebabkan oleh kondisi yang serba instan di masa kanak-kanak. Kondisi tersebut memungkinkan kalangan ini lebih berpikir praktis dan membandingkannya secara logis. “Jadi daripada beli rumah, mending tinggal di apartemen karena rumah itu juga butuh beli perabot yang banyak. Daripada beli mobil, mending naik taksi online karena enggak perlu parkir atau takut hilang, jadi pemikiran ini yang logis di kalangan milenial,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, ungkap Yuswo, juga ditunjang dengan era digitalisasi. Setiap hal yang ada pada milenial selalu bersangkut paut dengan digitalisasi. Dia meramalkan kondisi ini akan terus meningkat seiring dengan semakin masifnya digitalisasi yang ditawarkan pada gadget maupun segala hal yang serba cerdas (smart). “Ada smart TV dan smart-smart yang lain. Belum lagi artif icialintelligence (AI) yang sudah mulai banyak diperkenalkan. Bahkan era sepuluh tahun ke depan bakal serba AI,” ucapnya.
Era AI ini diperkirakan bakal semakin masif dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. “Era ini bahkan lebih dan akan sangat efisien dibanding tren milenial sekarang,” ujarnya.
Bisnis Mantel
Tidak terbatas pada busana formal atau sehari-hari saja, kini jasa penyewaan fashion berkembang luas hingga merambah ke bisnis penyewaan mantel. Jika hanya sesekali bepergian ke luar negeri dan harus membeli mantel, tentu tidaklah efisien. Kebiasaan menyewa mantel ini antara lain dilakukan Noverdi, karyawan swasta di Jakarta berusia 47 tahun ini. Sudah lima tahun terakhir, Noverdi selalu menyewa mantel jika bepergian ke luar negeri.
Pria yang hobi automotif ini mengaku tidak terlalu sering bepergian ke negara empat musim dengan keluarga, tapi tetap saja mereka harus siap dengan mantel masing-masing Untuk satu mantel, dia hanya membayar Rp450.000 dengan masa peminjaman selama dua minggu. “Saya lebih suka sewa untuk saya dan anak. Lebih efisien dan menghemat space di lemari,” katanya.
Dian Permana, pemilik Sewamantel.com, menargetkan konsumen berusia 25-60 tahun. “Paling banyak usia produktif yang menyewa, baik untuk liburan maupun perjalanan bisnis,” katanya. Animo penyewa untuk menyewa mantel, ujar Dian, pun cukup tinggi terutama saat musim dingin berlangsung mulai Oktober-Maret. Dalam sebulan mantel yang keluar dari outletnya bisa mencapai 5-8 potong.
Setali tiga uang, CEO Belsbee Arini Astari juga mengakui animo penyewa semakin hari semakin tinggi. Butiknya yang berada di kawasan Tebet, Jakarta Selatan itu setiap hari selalu disibukkan dengan pengiriman pakaian atau bahkan calon penyewa yang fitting langsung di tempat. “Saat ini pelanggannya kebanyakan di Jakarta. Dari luar Jakarta juga ada, tapi tidak banyak,” ujarnya.
Arini yakin prospek fashion rental ke depan semakin baik. Bagaimana tidak, fashion rental memberi kesempatan bagi penyewa untuk mengenakan gaun karya desainer kenamaan seperti Votum by Sebastian Gunawan, Barli Asmara, Asky Febrianti, dan sebagainya. Sebaliknya, platform digital ini menampung karya desainer muda sebagai salah satu channel pemasarannya.
Beragam alasan konsumen khususnya generasi milenial membuat bisnis rental semakin menjamur. Mereka tidak lagi ambil pusing dengan masalah kepemilikan. Arif (26) pekerja di Jakarta, misalnya telah memutuskan untuk tidak memiliki mobil meski tergolong mampu jika membelinya. Untuk sehari-hari dia cukup menggunakan motor. Jika harus bepergian jauh bersama istri dan anaknya, baru dia mengandalkan operator kendaraan online. Menurutnya, kendaraan online ini terbilang efisien. “Enggak perlu ngurus pajak atau pusing dengan biaya servisnya,” tutur Arif.
Bukan hanya mobil, rumah pun ia memilih untuk menyewa. Harga properti yang selangit membuat dirinya yang hanya pegawai biasa sulit untuk menjangkaunya.
Arif memiliki prinsip, selama masih bisa menyewa, tak perlulah ia mengeluarkan uang untuk membeli. Lebih baik ia alihkan pengeluaran untuk travelling bersama keluarga, mengajak mereka ke tempat yang belum pernah didatangi.
Tak hanya kendaraan, sewa-menyewa furnitur untuk mengisi rumah maupun apartemen kini juga mulai mewabah di Indonesia. Dengan hanya sewa, mereka tak ribet dengan urusan angkut-angkut pindah atau biaya pembelian yang terus meroket. Bahkan sewa perhiasan emas juga mulai muncul di Jakarta.
(ysw)