Sering Tak Bergejala, Yuk Cek Kesehatan Jantung secara Rutin
Jum'at, 28 Februari 2020 - 11:15 WIB
Sering Tak Bergejala, Yuk Cek Kesehatan Jantung secara Rutin
A
A
A
JAKARTA - Penyakit kardiovaskular disebut sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia dan sering tidak bergejala. Rutin periksa kondisi jantung sangat disarankan, khususnya yang punya risiko.
Meninggalnya Ashraf Sinclair menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih memperhatikan kesehatan, terutama kesehatan jantung. Ya, hingga saat ini penyakit jantung masih menjadi momok terlebih setelah dinobatkan sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia. Jantung koroner merupakan salah satu penyakit jantung yang ditakuti, mengingat tingkat fatalitasnya yang tinggi (mematikan).
Sayangnya tidak pada semua penderita memberikan tanda atau gejala. Oleh karena itu, penyakit jantung koroner sering disebut silent-killer (pembunuh diam-diam).
"Maka itu, kita harus selalu cek memeriksakan kondisi jantung untuk dapat mengetahui kondisinya, terutama pada orang yang mempunyai risiko," kata Dr dr Raja Adil C Siregar SpJP(K) FIHA FICA FESC FACC FAPSIC FSCAI, ahli jantung dan pembuluh darah dari Bethsaida Hospital Gading Serpong.
Penyakit jantung ada bermacam jenisnya. Selain jantung koroner, yaitu katup, bawaan, hipertensi, gagal jantung, irama jantung, dan lain-lainnya. "Masing-masing mempunyai gejala dan tanda yang berbeda," imbuh dr Raja. Dijelaskannya, penyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung yang mengenai sistem pembuluh darah koroner, yaitu sistem pembuluh darah yang memberi darah (menyuplai energi dan oksigen) ke otot jantung.
Untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu bergerak/berdenyut memompa darah ke seluruh tubuh, otot jantung memerlukan suplai darah melalui pembuluh darah koroner. Bila ada yang menghalangi suplai darah ke otot jantung, misalnya karena ada sumbatan di pembuluh darah koroner sehingga mengganggu jalannya darah, maka darah yang sampai otot jantung akan berkurang. “Dengan akibat tampilan kerja otot jantung akan berkurang, dari derajat ringan (sumbatan ringan) sampai yang terberat (tersumbat total pada serangan jantung akut)," urai sub-interventional cardiologist ini.
Menurut dr Raja, ada beberapa cara untuk check-up kondisi pembuluh darah koroner. Di antaranya dengan memeriksa secara fungsional (tidak langsung), misalnya EKG, treadmill, dan echocardiography. Ada pula yang secara langsung ke anatomi pembuluh darah koroner, seperti CT-scan/calcium scoring dan kateterisasi.
Untuk mengetahui kondisi pembuluh darah koroner, pemeriksaan yang secara langsung ke anatominya tentu lebih baik. Namun, kendalanya pemeriksaan tersebut invasif (melukai pasien), serta lama dan harganya mahal. Karena itu, sulit digunakan untuk screening. Meski begitu, ada pemeriksaan yang dinamakan "calcium scoring" yang merupakan bagian dari pemeriksaan CT-scan dan mempunyai beberapa kelebihan sehingga dapat digunakan untuk screening.
Calcium scoring adalah pemeriksaan nilai kalsium pada pembuluh darah jantung menggunakan CT-scan, yang merupakan cara noninvasif untuk memperoleh informasi tentang keberadaan, lokasi, dan kadar sumbatan di arteri koroner (pembuluh darah yang menyuplai darah yang mengandung energi dan oksigen ke otot jantung). Nilai kalsium yang didapat merupakan indikator yang berguna untuk melihat seberapa banyak sumbatan di pembuluh darah koroner jantung dan seberapa besar risiko seseorang terkena serangan jantung.
Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Prof Dr dr Idrus Alwi SpPD KKV FACC FESC, spesialis kardiovaskular, menyebutkan, ada berbagai faktor yang menjadi penyebabnya. Sebut saja kebiasaan merokok, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, hingga kurang bergerak. Dr Idrus menyoroti tren gaya hidup masyarakat ditambah kemajuan teknologi yang membuat semua serbamudah sehingga membuat kita kurang dalam bergerak, kurang olahraga, stres, belum lagi kebiasaan merokok, dan minuman alkohol. Dengan demikian, jelas gaya hidup sehat dan rutin cek kesehatan merupakan kunci pencegahan berbagai penyakit, tidak terkecuali jantung. (Sri Noviarni)
Meninggalnya Ashraf Sinclair menjadi pelajaran bagi kita untuk lebih memperhatikan kesehatan, terutama kesehatan jantung. Ya, hingga saat ini penyakit jantung masih menjadi momok terlebih setelah dinobatkan sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia. Jantung koroner merupakan salah satu penyakit jantung yang ditakuti, mengingat tingkat fatalitasnya yang tinggi (mematikan).
Sayangnya tidak pada semua penderita memberikan tanda atau gejala. Oleh karena itu, penyakit jantung koroner sering disebut silent-killer (pembunuh diam-diam).
"Maka itu, kita harus selalu cek memeriksakan kondisi jantung untuk dapat mengetahui kondisinya, terutama pada orang yang mempunyai risiko," kata Dr dr Raja Adil C Siregar SpJP(K) FIHA FICA FESC FACC FAPSIC FSCAI, ahli jantung dan pembuluh darah dari Bethsaida Hospital Gading Serpong.
Penyakit jantung ada bermacam jenisnya. Selain jantung koroner, yaitu katup, bawaan, hipertensi, gagal jantung, irama jantung, dan lain-lainnya. "Masing-masing mempunyai gejala dan tanda yang berbeda," imbuh dr Raja. Dijelaskannya, penyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung yang mengenai sistem pembuluh darah koroner, yaitu sistem pembuluh darah yang memberi darah (menyuplai energi dan oksigen) ke otot jantung.
Untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu bergerak/berdenyut memompa darah ke seluruh tubuh, otot jantung memerlukan suplai darah melalui pembuluh darah koroner. Bila ada yang menghalangi suplai darah ke otot jantung, misalnya karena ada sumbatan di pembuluh darah koroner sehingga mengganggu jalannya darah, maka darah yang sampai otot jantung akan berkurang. “Dengan akibat tampilan kerja otot jantung akan berkurang, dari derajat ringan (sumbatan ringan) sampai yang terberat (tersumbat total pada serangan jantung akut)," urai sub-interventional cardiologist ini.
Menurut dr Raja, ada beberapa cara untuk check-up kondisi pembuluh darah koroner. Di antaranya dengan memeriksa secara fungsional (tidak langsung), misalnya EKG, treadmill, dan echocardiography. Ada pula yang secara langsung ke anatomi pembuluh darah koroner, seperti CT-scan/calcium scoring dan kateterisasi.
Untuk mengetahui kondisi pembuluh darah koroner, pemeriksaan yang secara langsung ke anatominya tentu lebih baik. Namun, kendalanya pemeriksaan tersebut invasif (melukai pasien), serta lama dan harganya mahal. Karena itu, sulit digunakan untuk screening. Meski begitu, ada pemeriksaan yang dinamakan "calcium scoring" yang merupakan bagian dari pemeriksaan CT-scan dan mempunyai beberapa kelebihan sehingga dapat digunakan untuk screening.
Calcium scoring adalah pemeriksaan nilai kalsium pada pembuluh darah jantung menggunakan CT-scan, yang merupakan cara noninvasif untuk memperoleh informasi tentang keberadaan, lokasi, dan kadar sumbatan di arteri koroner (pembuluh darah yang menyuplai darah yang mengandung energi dan oksigen ke otot jantung). Nilai kalsium yang didapat merupakan indikator yang berguna untuk melihat seberapa banyak sumbatan di pembuluh darah koroner jantung dan seberapa besar risiko seseorang terkena serangan jantung.
Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Prof Dr dr Idrus Alwi SpPD KKV FACC FESC, spesialis kardiovaskular, menyebutkan, ada berbagai faktor yang menjadi penyebabnya. Sebut saja kebiasaan merokok, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, hingga kurang bergerak. Dr Idrus menyoroti tren gaya hidup masyarakat ditambah kemajuan teknologi yang membuat semua serbamudah sehingga membuat kita kurang dalam bergerak, kurang olahraga, stres, belum lagi kebiasaan merokok, dan minuman alkohol. Dengan demikian, jelas gaya hidup sehat dan rutin cek kesehatan merupakan kunci pencegahan berbagai penyakit, tidak terkecuali jantung. (Sri Noviarni)
(ysw)