CERMIN: 13 Pembunuhan, 2 Perempuan, dan 1 Obsesi
Rabu, 22 Maret 2023 - 20:00 WIB
Kecerdasan Loretta menyimpulkan ceceran fakta demi fakta dipadu dengan pengalaman investigasi Jean yang lihai menerobos ke titik-titik strategis membuat laporan investigasi yang mereka tulis di Record American mengguncang Boston. Tak pernah ada yang menyangka dua perempuan dari koran tak dikenal bisa menghubungkan titik demi titik dan fakta demi fakta yang tak pernah disadari sebelumnya oleh pihak kepolisian.
Foto: Disney+
Loretta bertindak pada awalnya bukan sebagai jurnalis, hanya sebagai perempuan/warga yang khawatir. Namun justru dari sudut pandang itu, ia gigih menggali informasi demi informasi, memburu puluhan narasumber, bahkan nyaris meluluhlantakkan keluarganya sendiri. Ada harga mahal yang harus dibayarnya atas laporan investigasi yang diturunkan berjilid-jilid itu.
Pada tahun 1960-an hingga 1990-an bisa jadi memang masa keemasan surat kabar. Banyak kasus yang terbuka lebar setelah ditelusuri para jurnalis yang mengendusnya melebihi polisi. Mereka bekerja tak kenal lelah, siang malam, meninggalkan keluarga, demi sebuah tugas mulia: memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Setelah diawali tiga pembunuhan, pembunuhan terus terjadi. Loretta dan Jean terus bahu-membahu melihat ulang laporan polisi, mendengarkan wawancara para tersangka, melihat laporan autopsi hingga foto-foto di TKP. Keduanya mulai melihat pola dari 13 pembunuhan dan deduksi mereka yang cemerlang membantu polisi dari beberapa negara bagian berbagi informasi dan bekerja sama.
Dari 13 pembunuhan terdapat 3 tersangka. Ketiga tersangka saling bekerja sama sewaktu mereka ditempatkan di penjara yang sama. Dan kita sadar bahwa Boston Strangleryang tayang di Disney+ Hotstar ini bukan sebuah film drama kriminal biasa.
Kita diajak melihat dari kacamata orang biasa bagaimana pembunuhan itu dilakukan, sebagian direncanakan, berikut motivasinya. Dan para tersangka tak digambarkan sebagai psikopat. Mereka nyaris seperti orang biasa. Hanya dengan obsesi membunuh yang tak bisa diterima logika.
Foto: Disney+
Loretta juga Jean menjadi sosok perempuan pelopor. Mereka mendobrak kekakuan sistem hukum dan patriarki. Bukan dengan alasan heroik atau ingin dikenal. Mereka hanya ingin agar sesama perempuan bisa kembali menjalani malam demi malam di rumah mereka masing-masing di Boston dengan tenang.
Sekali lagi kita rindu bagaimana media bekerja dengan baik pada masa-masa keemasan itu. Bukan media yang semata mengintip dan mengutip media sosial, bukan media yang menjual diri demi klik dan view, bukan media yang membuat judul bombastis agar menjadi viral.
Foto: Disney+
Loretta bertindak pada awalnya bukan sebagai jurnalis, hanya sebagai perempuan/warga yang khawatir. Namun justru dari sudut pandang itu, ia gigih menggali informasi demi informasi, memburu puluhan narasumber, bahkan nyaris meluluhlantakkan keluarganya sendiri. Ada harga mahal yang harus dibayarnya atas laporan investigasi yang diturunkan berjilid-jilid itu.
Pada tahun 1960-an hingga 1990-an bisa jadi memang masa keemasan surat kabar. Banyak kasus yang terbuka lebar setelah ditelusuri para jurnalis yang mengendusnya melebihi polisi. Mereka bekerja tak kenal lelah, siang malam, meninggalkan keluarga, demi sebuah tugas mulia: memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat.
Setelah diawali tiga pembunuhan, pembunuhan terus terjadi. Loretta dan Jean terus bahu-membahu melihat ulang laporan polisi, mendengarkan wawancara para tersangka, melihat laporan autopsi hingga foto-foto di TKP. Keduanya mulai melihat pola dari 13 pembunuhan dan deduksi mereka yang cemerlang membantu polisi dari beberapa negara bagian berbagi informasi dan bekerja sama.
Dari 13 pembunuhan terdapat 3 tersangka. Ketiga tersangka saling bekerja sama sewaktu mereka ditempatkan di penjara yang sama. Dan kita sadar bahwa Boston Strangleryang tayang di Disney+ Hotstar ini bukan sebuah film drama kriminal biasa.
Kita diajak melihat dari kacamata orang biasa bagaimana pembunuhan itu dilakukan, sebagian direncanakan, berikut motivasinya. Dan para tersangka tak digambarkan sebagai psikopat. Mereka nyaris seperti orang biasa. Hanya dengan obsesi membunuh yang tak bisa diterima logika.
Foto: Disney+
Loretta juga Jean menjadi sosok perempuan pelopor. Mereka mendobrak kekakuan sistem hukum dan patriarki. Bukan dengan alasan heroik atau ingin dikenal. Mereka hanya ingin agar sesama perempuan bisa kembali menjalani malam demi malam di rumah mereka masing-masing di Boston dengan tenang.
Sekali lagi kita rindu bagaimana media bekerja dengan baik pada masa-masa keemasan itu. Bukan media yang semata mengintip dan mengutip media sosial, bukan media yang menjual diri demi klik dan view, bukan media yang membuat judul bombastis agar menjadi viral.
Lihat Juga :