Ini Sejumlah Hal Menarik dari Produk Tembakau Alternatif
Selasa, 13 Juni 2023 - 13:43 WIB
Pada 2021, prevalensi merokok di Inggris sekitar 13,3 persen atau setara 6,6 juta jiwa, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya sebesar 14 persen. Adapun prevalensi merokok di Selandia Baru turun dari 16,6 persen pada 2015 menjadi 9,4 persen pada 2021. Produk tembakau alternatif mulai diperkenalkan di Negara Kiwi tersebut pada 2015 lalu.
Pemanfaatan produk tembakau alternatif juga membantu Jepang dalam menurunkankan tingkat prevalensi merokok dari 25,8 persen pada 2010 menjadi 20,1 persen, pada 2020.
Kedua, produk tembakau alternatif diyakini mempunyai profil risiko lebih rendah ketimbang rokok. Berdasarkan sejumlah kajian ilmiah baik di dalam dan luar negeri telah menemukan jika produk ini lebih rendah risiko daripada rokok.
Seperti terungkap dalam kajian ilmiah bertajuk Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018 oleh Public Health England (UK Health Security Agency), divisi dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris. Berdasarkan riset tersebut, produk tembakau alternatif mampu mengurangi risiko hingga 90-95 persen lebih rendah daripada rokok.
Lantas, bagaimana dengan hasil penelitian di Indonesia? Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad) melakukan kajian ilmiah bertajuk "Respons Gusi pada Pengguna Vape saat Mengalami Peradangan Gusi Buatan (Gingivitas Eksperimental)".
Penelitian klinis tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana produk tembakau alternatif memberikan dampak bagi pertahanan gusi terhadap bakteri plak gigi pada pengguna rokok elektrik dibandingkan perokok.
"Hasil temuan ini membuktikan bahwa pengguna rokok elektrik yang telah berhenti dari kebiasaan merokok menunjukkan perbaikan kualitas gusi, sama seperti yang dialami oleh non-perokok," ungkap salah satu anggota kajian ilmiah tersebut, Dr. Amaliya, drg., Ph.D.
Lalu, yang ketiga, asosiasi pelaku usaha juga terus berupaya agar produk alternatif tidak boleh dikonsumsi anak-anak di bawah usia 18 tahun, non-perokok, ibu hamil dan menyusui.
Pemanfaatan produk tembakau alternatif juga membantu Jepang dalam menurunkankan tingkat prevalensi merokok dari 25,8 persen pada 2010 menjadi 20,1 persen, pada 2020.
Kedua, produk tembakau alternatif diyakini mempunyai profil risiko lebih rendah ketimbang rokok. Berdasarkan sejumlah kajian ilmiah baik di dalam dan luar negeri telah menemukan jika produk ini lebih rendah risiko daripada rokok.
Seperti terungkap dalam kajian ilmiah bertajuk Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products 2018 oleh Public Health England (UK Health Security Agency), divisi dalam Departemen Kesehatan dan Pelayanan Sosial di Inggris. Berdasarkan riset tersebut, produk tembakau alternatif mampu mengurangi risiko hingga 90-95 persen lebih rendah daripada rokok.
Lantas, bagaimana dengan hasil penelitian di Indonesia? Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad) melakukan kajian ilmiah bertajuk "Respons Gusi pada Pengguna Vape saat Mengalami Peradangan Gusi Buatan (Gingivitas Eksperimental)".
Penelitian klinis tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana produk tembakau alternatif memberikan dampak bagi pertahanan gusi terhadap bakteri plak gigi pada pengguna rokok elektrik dibandingkan perokok.
"Hasil temuan ini membuktikan bahwa pengguna rokok elektrik yang telah berhenti dari kebiasaan merokok menunjukkan perbaikan kualitas gusi, sama seperti yang dialami oleh non-perokok," ungkap salah satu anggota kajian ilmiah tersebut, Dr. Amaliya, drg., Ph.D.
Lalu, yang ketiga, asosiasi pelaku usaha juga terus berupaya agar produk alternatif tidak boleh dikonsumsi anak-anak di bawah usia 18 tahun, non-perokok, ibu hamil dan menyusui.
Lihat Juga :