CERMIN: Film Horor, Adrenalin, dan Kesenangan dari Rasa Takut
Rabu, 09 Agustus 2023 - 14:03 WIB
Sama seperti Sixth Sense, Cobweb juga menampilkan karakter bocah cilik sebagai pemeran utamanya. Namanya Peter. Sekilas tak ada yang aneh dengannya. Ia berusaha normal meski tampak kesulitan beradaptasi dengan teman-temannya, dan akhirnya membuatnya menjadi sasaran empuk perisakan.
Berbeda dengan Sixth Sense yang skenarionya rapi dan cermat mengupas hubungan Cole dan ibunya, serta caranya menjalani hari, Cobwebjustru tak mencoba menjangkau lebih jauh bagaimana hubungan Peter dengan kedua orang tuanya.
Foto:Lionsgate Films
Skenario yang ditulis Chris Thomas Devlin rupanya ingin fokus pada plot utama: bagaimana Peter bertahan dari teror suara-suara aneh yang mendatanginya setiap malam. Di sebuah rumah tua dengan seorang anak yang tidur sendirian di kamar yang cukup gelap, apa yang bisa kita harapkan? Jika pun suara-suara aneh itu tak ada, toh imajinasi anak kecil yang terperangkap dalam situasi seperti itu bisa saja akan memenjarakannya dalam ketakutan.
Tapi kita selalu tahu bahwa anak kecil selalu punya mekanisme bertahannya sendiri. Baik Cole maupun Peter tak mau menyerah pada yang sudah menjadi 'takdir' yang harus mereka hadapi. Ketika Cole berhadapan dengan makhluk-makhluk gentayangan yang meminta pertolongannya, Peter pun menghadapi ketakutannya dengan melakukan konfrontasi langsung terhadap suara-suara aneh itu.
Kemudian kita, para penonton, menjadi Peter yang berada di tengah-tengah suasana mencekam. Suara-suara aneh itu tak sekadar lagi menganggunya dan membuatnya melukis permintaan tolong yang dikenali oleh gurunya, Nona Devine. Ia kini berwujud menjadi monster laba-laba dan akan amat sangat menakutkan bagi mereka yang punya sindrom arachnophobia.
Foto: Lionsgate Films
Untungnya memang Samuel menutupi lemahnya skenario, karakterisasi, dan relasi tiap karakter dengan teror demi teror yang terus berdentum dan membuat penonton merasakan ketakutan dan kenikmatan pada saat bersamaan. Ada cukup banyak momen penonton akan tak kuasa untuk menahan diri untuk tak berteriak. Ada cukup banyak adegan yang potensial membuat penonton menjerit-jerit.
Berbeda dengan Sixth Sense yang skenarionya rapi dan cermat mengupas hubungan Cole dan ibunya, serta caranya menjalani hari, Cobwebjustru tak mencoba menjangkau lebih jauh bagaimana hubungan Peter dengan kedua orang tuanya.
Foto:Lionsgate Films
Skenario yang ditulis Chris Thomas Devlin rupanya ingin fokus pada plot utama: bagaimana Peter bertahan dari teror suara-suara aneh yang mendatanginya setiap malam. Di sebuah rumah tua dengan seorang anak yang tidur sendirian di kamar yang cukup gelap, apa yang bisa kita harapkan? Jika pun suara-suara aneh itu tak ada, toh imajinasi anak kecil yang terperangkap dalam situasi seperti itu bisa saja akan memenjarakannya dalam ketakutan.
Tapi kita selalu tahu bahwa anak kecil selalu punya mekanisme bertahannya sendiri. Baik Cole maupun Peter tak mau menyerah pada yang sudah menjadi 'takdir' yang harus mereka hadapi. Ketika Cole berhadapan dengan makhluk-makhluk gentayangan yang meminta pertolongannya, Peter pun menghadapi ketakutannya dengan melakukan konfrontasi langsung terhadap suara-suara aneh itu.
Kemudian kita, para penonton, menjadi Peter yang berada di tengah-tengah suasana mencekam. Suara-suara aneh itu tak sekadar lagi menganggunya dan membuatnya melukis permintaan tolong yang dikenali oleh gurunya, Nona Devine. Ia kini berwujud menjadi monster laba-laba dan akan amat sangat menakutkan bagi mereka yang punya sindrom arachnophobia.
Foto: Lionsgate Films
Untungnya memang Samuel menutupi lemahnya skenario, karakterisasi, dan relasi tiap karakter dengan teror demi teror yang terus berdentum dan membuat penonton merasakan ketakutan dan kenikmatan pada saat bersamaan. Ada cukup banyak momen penonton akan tak kuasa untuk menahan diri untuk tak berteriak. Ada cukup banyak adegan yang potensial membuat penonton menjerit-jerit.
Lihat Juga :