Review Film Telur Setengah Matang: Labirin Sesal Tak Berujung
Rabu, 20 Desember 2023 - 15:02 WIB
Menikah Bukan Solusi
Menikah ternyata bukan pilihan terbaik. Menurut pakar, menikahkan pasangan yang mengalami kehamilan di luar nikah, bukanlah solusi untuk mengatasi anak hamil di luar nikah."Apa pun alasannya, seks sebelum menikah itu tetap salah. Namun, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan dan menuding si anak. Apalagi jika ternyata si anak menjadi korban perkosaan," jelas psikolog Anna Surti Ariani kepada kompas.com.
Anna menyarankan kepada pihak orang tua agar mereka menenangkan diri terlebih dulu. Dalam situasi seperti ini orang tua harus paham bahwa bukan hanya mereka yang syok, tetapi juga si anak.
“Butuh keberanian ekstra dalam diri anak untuk mengakui hal ini kepada orang tuanya. Makanya saat anak sudah berani mengaku dan langsung dimarahi habis-habisan, ia akan jadi depresi. Orang tua harus tetap menjaga kondisi psikologis anaknya,” imbuhnya.
Menikahkan kedua remaja terkait pernikahan di luar nikah bukanlah satu-satunya solusi untuk menghindari aib. Jika keduanya menikah dengan kesadaran untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, mungkin tidak jadi masalah.
Namun sayangnya, ungkap psikolog Anna, sebagian besar pernikahan ini berlangsung disebabkan oleh adanya paksaan dari pihak keluarga. Padahal pernikahan yang terpaksa dilakukan bisa membuat anak jauh lebih depresi.
Foto: Viddsee Indonesia
Ada yang menarik dari pernyataan Anna lebih jauh. Selain aib, ada alasan lain sehingga pernikahan ini dilangsungkan. Alasan tersebut adalah perasaan takut si anak (perempuan) 'tidak laku' lagi.
Padahal, menurut Anna, tidak semua laki-laki memegang prinsip hanya mau menikahi pasangan yang masih perawan. Masih ada lelaki 'baik-baik' yang bersedia menikah dengan perempuan yang sudah tidak perawan. Tentu dibutuhkan kejujuran sedari awal.
Dibanding segera menikahkan secara paksa, lebih baik memberikan kesempatan kepada mereka untuk tenang dan berpikir panjang tentang langkah-langkah selanjutnya. Orang tua bisa mengambil peran mengajak anak bergaul di komunitas baru.
Tak salah bila keputusan yang diambil adalah mempertahankan kehamilan tersebut hingga si bayi lahir. Bayi tersebut bisa saja diasuh oleh anggota keluarga lain yang belum memiliki anak. Yang terpenting langkah tersebut berasal dari diskusi dan membuat kedua pihaknya nyaman.
Film Telur Setengah Matang
Film Telur Setengah Matang menuturkan situasi dilematis ini. Masa depan Annisa (Lia Nur Vita), siswa kelas kelas IX, serasa runtuh. Sebagai anak yang tergolong pintar di sekolah, ia merenda impian untuk merengkuh cita-cita yang diidamkannya. Namun, kejadian yang dialaminya membuat tapak jalan ke depannya menjadi gelap.Teman gaulnya, Adit (Laksamana Adbi Satria), menghadirkan situasi yang terasa lazim. Ketika kesenangan berlalu, tidak lagi bisa berharap apa pun sebagai teman untuk berbagi rasa cemas. Adit seolah tidak hadir dalam lingkar pergulatan intens Annisa.
Dalam situasi beban kian berat, jalan gelap terentang di hadapan Annisa dan menggodanya untuk melangkahinya. Beruntung dalam situasi badai seperti itu, ada lelaki yang dipanggilnya sebagai ayah (Triadi Hamung), masih memiliki isi benak yang waras.
Dalam perangkap labirin hidup yang seolah tak memiliki jalan keluar itu, mereka berdua memilih untuk kuat dan mengayuh langkah waras ke depan. Sekali pun kabut seolah mengadang, keyakinan kecil menjadi pilihan terbaik.
Lihat Juga :