CERMIN: Fotografer Perempuan di Tengah Medan Perang

Sabtu, 04 Mei 2024 - 13:54 WIB
Film Civil War menampilkan sosok dua fotografer perempuan beda usia dan pengalaman dalam melihat perang. Foto/A24
JAKARTA - Mei 1998. James Natchwey menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seorang pria Kristiani digorok lehernya oleh massa.

Penyebabnya masih diragukan kebenarannya: ia diduga merusak masjid. namun kepala seseorang telah terpenggal dan James menyebarluaskannya ke seluruh dunia melalui foto-fotonya.



Pengalaman James itu dituturkannya dalam film yang menjadi Best Documentary Feature dalam ajang Academy Awards 2002, War Photographer. Dan kita terpesona dengan kegigihan James menjadi corong dari suara para korban.

Baca Juga: CERMIN: Belajar Bikin Film yang Keren dan Seksi dari Luca Guadagnino

Kita terkagum melihat betapa ketatnya ia mengawal rasa ketika berhadapan dengan peristiwa yang bisa mengoyak rasa kemanusiaan. James menjadi contoh sempurna tentang bagaimana seorang fotografer perang turut mempertaruhkan nyawanya memotret dari dekat dan menyebarluaskannya kelak ke seluruh dunia.

Setelah James Natchwey, mungkin kita akan kagum pada sosok fotografer perang perempuan, Lee Smith. Tapi Lee bukan tokoh nyata, ia hanya karakter rekaan dari film besutan Alex Garland, Civil War.



Foto: A24

Melalui mata Lee, kita melihat bagaimana Amerika terpecah belah, hancur lebur berantakan oleh perpecahan antarsesama dan memelihara saling curiga dalam taraf paling akut yang pernah kita saksikan.

Sebagaimana James, Lee (diperankan dengan cemerlang oleh Kirsten Dunst) juga adalah seorang fotografer perempuan berhati baja dan tak kenal takut. Preferensi gender tak berarti sama sekali buatnya.

Ia hanya peduli satu hal: memberitakan informasi yang mungkin dibutuhkan oleh dunia melalui foto-fotonya. Oleh karena itu, bersama rekannya, reporter dari kantor berita Reuters,Joe; temannya sesama jurnalis senior; Sammy; dan fotografer perempuan yang minim pengalaman, Jessie, keduanya mengejar berita ke pusat masalah: Presiden Amerika Serikat.

Namundi tengah situasi tak menentu dan sering kali tak terkendali, apa pun bisa terjadi. Perjalanan mereka menemui beragam hambatan hingga bertemu sebuah peristiwa yang mengguncang kewarasan mereka.

Lee tetaplah seorang manusia yang memiliki batas, yang bisa jadi selalu berusaha didekapnya erat-erat. Namun kita tahu suatu saat batas itu luntur hingga tak ada lagi batas, tak ada lagi hal yang bisa membuat seseorang masih merasa dirinya seorang manusia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!