Bedah Buku Cagar Budaya, Upaya Menjaga Nilai Sejarah dan Warisan Identitas Nasional

Sabtu, 19 Oktober 2024 - 00:30 WIB
“Bangunan yang sudah mangkrak 15 tahun ketika hendak dilanjutkan itu tidak sederhana. Materialnya terdeteriorasi, standar teknis atau SNInya sudah berubah. Jadi tidak sesederhana melanjutkan pembangunan yang kontinyu. Setelah 15 tahun mangkrak, dilanjutkan oleh (Gubernur Jenderal Thomas Stamford-) Raffles tetapi dengan fungsi yang berubah. Awalnya direncanakan oleh Daendels sebagai Istana tetapi jadi kantor pemerintahan. Dan setelah Indonesia merdeka, sekarang jadi gedung Kementerian Keuangan,” ungkap Angga selaku penulis kedua.

Dalam sesi pembahasan, Taufan menyampaikan, yang menarik dari buku ini adalah bahwa buku ini memuat panduan teknis dan tahapan yang harus dilakukan dalam melakukan penanganan bangunan cagar budaya, mulai dari pengupasan, pemeriksaan bangunan, materi pelaporan hasil, konsep metode praktis perbaikan dan perkuatan, hingga teknik pemeriksaan aspek struktur bangunan cagar budaya dengan sistem struktur masonry.

Baca Juga: Terdengar Jeritan Keras dari Kamar sebelum Liam Payne Jatuh

Di akhir acara, Taufan menyampaikan harapannya bahwa melalui acara bedah buku “Penanganan Bangunan Cagar Budaya” ini, dapat diambil pembelajaran, pengetahuan, dan sekaligus menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua, mengenai pentingnya melestarikan dan menjaga pusaka Indonesia, baik pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana termasuk kawasan dan bangunan cagar budaya agar tetap berkelanjutan, baik secara lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Acara bedah buku ini dilaksanakan secara luring dan daring yang diikuti sekitar seratus orang peserta dari internal Kementerian PUPR, akademisi, mahasiswa dan umum, Adapun secara daring, acara ini ditayangkan secara live streaming melalui media zoom, kanal YouTube PUPR dan Radio Sonora Yogyakarta.
(dra)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!