9 Tradisi Unik Perayaan Natal di Indonesia, Yogyakarta Gelar Wayang Wahyu
Selasa, 24 Desember 2024 - 07:00 WIB
3. Jakarte Punye Rabo-Rabo
Kota Metropolitan yang lekat dengan gaya hidup modern ini ternyata punya tradisi perayaan hari Natal yang unik, lho! Namanya Rabo-Rabo, tradisi yang dapat dijumpai di kawasan Cilincing, tepatnya di Kampung Tugu yang merupakan kawasan tinggal sekelompok pemeluk agama Kristen berketurunan Portugis.Tradisi yang memiliki arti “Ekor-Mengekor” dalam bahasa Kreol Portugis ini dilakukan setiap menjelang Natal. Dimulai dengan mengunjungi Gereja terlebih dahulu untuk beribadah. Setelah itu, mereka berkeliling kampung dan mengunjungi rumah-rumah dalam rombongan layaknya ekor yang memanjang, sambil menyanyikan lagu keroncong. Puncak perayaan ini akan dilakukan tradisi mandi-mandi, saling menorehkan bedak putih ke wajah satu sama lain. Menurut kepercayaan, kegiatan tersebut menyimbolkan penebusan dosa dan pengampunan, serta untuk memulai dan menyambut Tahun Baru dalam keadaan bersih. Dan tradisi ditutup dengan pesta makan di rumah yang terakhir dikunjungi.
4. Wayang Wahyu (Yogyakarta)
Menjelang perayaan hari Natal, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) datang dengan kesenian wayang kulitnya. Berbeda dari wayang pada biasanya dengan cerita Mahabharata atau Ramayana, pertunjukkan Wayang Wahyu mengangkat kisah yang terdapat dalam Alkitab dan sarana untuk menyampaikan wahyu atau firman Tuhan. Pertama kali muncul pada 1960an, pementasan ini biasanya digelar di gereja-gereja tertentu di Jawa, di mana digunakan untuk mengingatkan umat Katolik untuk menjalin keharmonisan antar sesama dan menjadi salah satu simbol inkulturasi budaya.5. Ngejot dan Penjor (Bali)
Ngejot merupakan tradisi di mana para warga saling membagikan makanan. Uniknya, makanan yang disajikan disesuaikan dengan agama masing-masing setiap orang. Sedangkan Penjor merupakan bambu-bambu tinggi melengkung yang biasanya dipasang saat hari raya Galungan, di mana bambu-bambu tersebut melambangkan bentuk syukur terhadap anugerah Tuhan.6. Kunci Taon (Sulawesi Utara)
Kunci Taon atau secara harfiah berarti “Mengunci Tahun” merupakan tradisi perayaan hari Natal sekaligus untuk memperingati akhir tahun yang berasal dari Kota Manado, Sulawesi Utara. Pelaksanaanya mulai awal bulan Desember dan berakhir pada awal bulan Januari.Tradisi ini diawali dengan serangkaian ibadah di Gereja. Lalu, para umat Kristen akan berziarah ke makam kerabat. Uniknya, saat berziarah kebanyakan dari masyarakat Manado akan meletakkan lampu hias di atas makam tersebut. Tradisi Kunci Taon ditutup dengan pawai mengelilingi kampung sambil mengenakan kostum-kostum unik.
7. Papua, Bakar Batu!
Tradisi perayaan hari Natal yang biasa dilakukan oleh umat Kristen di Papua adalah Bakar Batu atau Barapen. Tradisi ini dikenal dengan kegiatan memasak bersama menggunakan batu-batu yang dibakar. Batu-batu tersebut diletakkan di dalam sebuah lubang yang telah digali dan dilapisi dengan daun pisang dan ilalang.Setelah itu, batu yang telah dibakar kemudian digunakan untuk memasak berbagai bahan makanan, termasuk daging babi. Urutannya adalah daging babi dimasukkan ke dalamnya, lalu disusul oleh lapisan daun pisang dan batu-batu panas lagi. Setelah itu, susunan tersebut diisi dengan sayuran dan umbi-umbian, kemudian ditutup lagi dengan daun pisang, ilalang, serta batu bakar.
Lihat Juga :