Banyak Dikonsumsi Anak, Kenapa Susu Pertumbuhan Dilarang?
Selasa, 10 Juni 2025 - 16:00 WIB
Kekurangan zat besi bisa menyebabkan anemia, gangguan pertumbuhan, hingga penurunan kecerdasan kognitif. Di sinilah susu pertumbuhan bisa berperan. Beberapa produk bahkan sudah diperkaya dengan kombinasi zat besi dan vitamin C (Iron C) yang memudahkan penyerapan zat besi oleh tubuh.
Namun, dr. Sukiman menegaskan pentingnya memahami konteks. “Yang sering disalahpahami masyarakat adalah menyamakan semua produk susu. Padahal, susu pertumbuhan berbeda dari susu kental manis,” jelasnya. Ia menekankan bahwa susu kental manis bukanlah susu yang layak dikonsumsi sebagai sumber gizi utama anak.
“Itu bukan susu. Kandungan gulanya tinggi dan sangat minim nutrisi. Bahkan bisa menyebabkan obesitas dan penyakit metabolik lain.”
Ia menambahkan, susu pertumbuhan yang sesuai usia bisa menjadi pelengkap gizi, terutama bila kondisi ibu tidak memungkinkan memberikan ASI eksklusif.
Namun, ia mengingatkan agar pemilihannya dilakukan dengan cermat. “Baca labelnya, cek kandungannya. Konsultasikan dengan ahli gizi atau dokter anak,” pesannya.
Lebih lanjut, dr. Sukiman mengajak masyarakat untuk melihat gizi anak secara holistik. “Pemenuhan gizi anak tidak bisa hanya mengandalkan susu. Harus ada makanan pendamping ASI yang seimbang, tinggi protein hewani, vitamin, dan mineral. Jangan lupa pentingnya zat besi dalam proses tumbuh kembang, termasuk dalam menjaga fungsi otak dan imunitas.”
Namun, dr. Sukiman menegaskan pentingnya memahami konteks. “Yang sering disalahpahami masyarakat adalah menyamakan semua produk susu. Padahal, susu pertumbuhan berbeda dari susu kental manis,” jelasnya. Ia menekankan bahwa susu kental manis bukanlah susu yang layak dikonsumsi sebagai sumber gizi utama anak.
“Itu bukan susu. Kandungan gulanya tinggi dan sangat minim nutrisi. Bahkan bisa menyebabkan obesitas dan penyakit metabolik lain.”
Ia menambahkan, susu pertumbuhan yang sesuai usia bisa menjadi pelengkap gizi, terutama bila kondisi ibu tidak memungkinkan memberikan ASI eksklusif.
Namun, ia mengingatkan agar pemilihannya dilakukan dengan cermat. “Baca labelnya, cek kandungannya. Konsultasikan dengan ahli gizi atau dokter anak,” pesannya.
Lebih lanjut, dr. Sukiman mengajak masyarakat untuk melihat gizi anak secara holistik. “Pemenuhan gizi anak tidak bisa hanya mengandalkan susu. Harus ada makanan pendamping ASI yang seimbang, tinggi protein hewani, vitamin, dan mineral. Jangan lupa pentingnya zat besi dalam proses tumbuh kembang, termasuk dalam menjaga fungsi otak dan imunitas.”
Lihat Juga :