Peneliti IPB Ungkap Khasiat Tempuyung, Obat Herbal Serbaguna Kaya Antioksidan

Kamis, 31 Juli 2025 - 05:30 WIB
Menurut Prof Rafi, beberapa tantangan besar yang harus diatasi untuk menjadikan tempuyung sebagai fitofarmaka antara lain variabilitas bahan baku, kurangnya standar ekstrak, keterbatasan uji klinis, serta belum optimalnya dukungan regulasi.

“Tidak semua produsen memiliki ekstrak yang terstandardisasi, misalnya kadar minimum luteolin atau kalium,” katanya. Ia juga menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri untuk memperkuat riset tanaman lokal.

Lebih lanjut, Prof Rafi menjelaskan penggunaan aplikasi kemometrik dengan pendekatan metabolomik dapat menjadi alternatif dalam proses penjaminan mutu dan konsistensi produk tempuyung. Misalnya dalam hal autentikasi bahan baku, mengidentifikasi senyawa bioaktif untuk menjadi senyawa penanda, dan lain sebagainya.

“Contohnya, analisis kemometrik seperti principal component analysis digunakan untuk membedakan ekstrak tempuyung dari daerah dataran rendah versus tinggi berdasarkan profil LC-MS/MS. Ini membantu menjaga reproducibility produk,” ujarnya.

Analisis metabolomik yang menyeluruh menggunakan LC-MS atau NMR juga dapat memantau biomarker dan menghasilkan chemical fingerprint yang digunakan sebagai standar mutu.

Ia juga menyoroti pentingnya metode analisis sederhana namun efektif untuk menghindari pemalsuan bahan baku herbal. Spektroskopi FTIR yang dikombinasikan dengan kemometrik mampu mendeteksi keaslian bahan tanpa merusak sampel. Sementara itu, kromatografi lapis tipis-densitometri berguna untuk mendeteksi flavonoid penanda seperti luteolin.

“Dengan potensi besar yang dimilikinya, tempuyung masih memerlukan dukungan riset mendalam, standardisasi menyeluruh, serta validasi klinis yang kuat agar dapat berkembang menjadi fitofarmaka andalan Indonesia,” tutupnya.
(nnz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!