Dampak Pandemi, 83% Tenaga Kesehatan di Indonesia Alami Burnout Syndrome
Senin, 14 September 2020 - 13:40 WIB
Temuan lainnya yang juga cukup mengkhawatirkan adalah sekitar 41% tenaga kesehatan mengalami keletihan emosi derajat sedang dan berat, 22% mengalami kehilangan empati derajat sedang dan berat, serta 52% mengalami kurang percaya diri derajat sedang dan berat. (Baca juga: Wabah Corona, Bolehkah Salat Memakai Masker?)
Adapun dokter yang menangani pasien Covid-19, baik dokter umum maupun spesialis, berisiko dua kali lebih besar mengalami keletihan emosi dan kehilangan empati dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien Covid-19. Hal ini juga berlaku bagi tenaga bidan. Bidan yang menangani pasien Covid-19 berisiko juga dua kali lebih besar mengalami keletihan emosi dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien Covid-19.
Faktanya, hingga kini masih pula terdapat tenaga kesehatan (2%) yang tidak mendapatkan alat pelindung diri (APD) dari fasilitas kesehatannya. Adapun sebanyak 75% fasilitas kesehatan tidak melakukan pemeriksaan swab rutin dan 59% tidak melakukan pemeriksaan rapid test rutin bagi tenaga kesehatannya.
Karena itu, hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa selain aspek proteksi keselamatan dan kesehatan fisik, manajemen rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan pemerintah juga harus mulai memprioritaskan aspek intervensi kesehatan mental seperti pendampingan dan konseling psikologis untuk tenaga kesehatan, terutama yang bertugas selama masa pandemi ini. (Lihat videonya: Peran Ki Gede Sala dalam berdirinya Sejarah Kota Solo)
Aspek lain yang juga harus dilakukan adalah menciptakan suasana aman dan nyaman bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan fungsi medis dengan menerapkan prinsip kedokteran okupasi yang komprehensif. (Sri Noviarni)
Adapun dokter yang menangani pasien Covid-19, baik dokter umum maupun spesialis, berisiko dua kali lebih besar mengalami keletihan emosi dan kehilangan empati dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien Covid-19. Hal ini juga berlaku bagi tenaga bidan. Bidan yang menangani pasien Covid-19 berisiko juga dua kali lebih besar mengalami keletihan emosi dibandingkan mereka yang tidak menangani pasien Covid-19.
Faktanya, hingga kini masih pula terdapat tenaga kesehatan (2%) yang tidak mendapatkan alat pelindung diri (APD) dari fasilitas kesehatannya. Adapun sebanyak 75% fasilitas kesehatan tidak melakukan pemeriksaan swab rutin dan 59% tidak melakukan pemeriksaan rapid test rutin bagi tenaga kesehatannya.
Karena itu, hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa selain aspek proteksi keselamatan dan kesehatan fisik, manajemen rumah sakit, fasilitas kesehatan, dan pemerintah juga harus mulai memprioritaskan aspek intervensi kesehatan mental seperti pendampingan dan konseling psikologis untuk tenaga kesehatan, terutama yang bertugas selama masa pandemi ini. (Lihat videonya: Peran Ki Gede Sala dalam berdirinya Sejarah Kota Solo)
Aspek lain yang juga harus dilakukan adalah menciptakan suasana aman dan nyaman bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan fungsi medis dengan menerapkan prinsip kedokteran okupasi yang komprehensif. (Sri Noviarni)
(ysw)
Lihat Juga :