Bukan Cuma Lesu Biasa: Kenali Anemia Defisiensi Besi, Musuh Tersembunyi Tumbuh Kembang Anak
Rabu, 26 November 2025 - 20:24 WIB
Foto: Doc. Istimewa
Dalam rangka memperingati Iron Deficiency Anemia (IDA) Awareness Day, Sarihusada mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih waspada terhadap anemia defisiensi besi, salah satu masalah gizi yang kerap terjadi tanpa disadari (silent disease) dan berdampak besar pada kualitas hidup anak. Kondisi ini masih menjadi tantangan serius bagi Indonesia, terutama karena anemia berkontribusi terhadap tingginya angka stunting. SKI 2023 menunjukan bahwa 1 dari 4 anak Indonesia mengalami anemia, yang ini menjadi salah satu penyebab yang mendasari keterlambatan pertumbuhan serta perkembangan otak anak.
Anemia defisiensi besi merupakan kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi yang dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein penting dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat menghambat tumbuh kembang anak, menurunkan daya tahan tubuh, hingga memengaruhi kecerdasan dan prestasi belajar.
Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Menurut dr. Devie Kristiani, Sp.A, Dokter Spesialis Anak RS Bethesda Yogyakarta, gejala anemia defisiensi besi sering kali tidak disadari pada tahap awal. Anak mungkin tampak pucat, mudah lelah, lesu, atau kurang aktif. Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi berat badan sulit naik, pertumbuhan terlambat, penurunan nafsu makan, hingga kebiasaan pica (memakan benda bukan makanan seperti tanah atau es batu).
“Anemia defisiensi besi bukan sekadar masalah kurang darah. Kondisi ini berdampak langsung pada perkembangan saraf dan otak. Studi menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor kognitif, kemampuan psikomotor, serta konsentrasi yang lebih rendah dibanding anak dengan kadar zat besi yang cukup. Hal ini berpengaruh pada kesiapan mereka belajar di sekolah dan performa akademik dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memastikan anak mendapatkan kecukupan zat besi dimulai dari periode ASI Ekslusif untuk memenuhi kecukupan zat besi pada awal tahap kehidupannya,” jelas dr. Devie.
Penyebab dan Faktor Risiko
Anemia defisiensi besi merupakan kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi yang dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein penting dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat menghambat tumbuh kembang anak, menurunkan daya tahan tubuh, hingga memengaruhi kecerdasan dan prestasi belajar.
Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak
Menurut dr. Devie Kristiani, Sp.A, Dokter Spesialis Anak RS Bethesda Yogyakarta, gejala anemia defisiensi besi sering kali tidak disadari pada tahap awal. Anak mungkin tampak pucat, mudah lelah, lesu, atau kurang aktif. Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi berat badan sulit naik, pertumbuhan terlambat, penurunan nafsu makan, hingga kebiasaan pica (memakan benda bukan makanan seperti tanah atau es batu).
“Anemia defisiensi besi bukan sekadar masalah kurang darah. Kondisi ini berdampak langsung pada perkembangan saraf dan otak. Studi menunjukkan bahwa anak dengan anemia defisiensi besi memiliki skor kognitif, kemampuan psikomotor, serta konsentrasi yang lebih rendah dibanding anak dengan kadar zat besi yang cukup. Hal ini berpengaruh pada kesiapan mereka belajar di sekolah dan performa akademik dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memastikan anak mendapatkan kecukupan zat besi dimulai dari periode ASI Ekslusif untuk memenuhi kecukupan zat besi pada awal tahap kehidupannya,” jelas dr. Devie.
Penyebab dan Faktor Risiko
Lihat Juga :