Chef Rahmat Kusnadi Sebut Tren Bakery dan Pastry 2026 Kembali ke Alam dan Kearifan Lokal
Minggu, 14 Desember 2025 - 16:17 WIB
Foto: Doc. Istimewa
JAKARTA - Perkembangan dunia kuliner utamanya bakery dan pastry terus berkembang hal itu membuat Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA), Rahmat Kusnadi memprediksi tren industri bakery dan pastry pada 2026 akan bergerak ke arah back to the nature.
Konsep ini ditandai dengan kembalinya adonan-adonan klasik yang pernah populer, namun dihadirkan dengan sentuhan modern agar tetap relevan dengan selera konsumen masa kini.
Adonan seperti sourdough, brioche, hingga berbagai jenis pastry Eropa kembali diangkat ke permukaan. Meski demikian, menegaskan bahwa kebangkitan adonan klasik ini tidak hadir dalam bentuk lama yang monoton, melainkan dikemas dengan presentasi yang lebih segar dan inovatif.
Chef Rahmat juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap selera lokal, khususnya di Indonesia. Produk bakery ala Barat yang cenderung polos dan minim isian dinilai kurang sesuai dengan karakter konsumen Tanah Air.
“Orang Indonesia itu suka roti yang lembut dan ada isinya. Jadi sekarang sourdough pun mulai dikasih filling. Itu bentuk adaptasi,” jelasnya.
Adaptasi ini menjadi bukti bahwa tren global tidak bisa diterapkan secara mentah.
Inovasi justru lahir ketika baker mampu memadukan teknik internasional dengan preferensi rasa lokal, sehingga menghasilkan produk yang lebih diterima pasar.
Bakery sebagai Identitas dan Oleh-Oleh Daerah
Ke depan, Chef Rahmat melihat travel cake dan produk bakery khas daerah akan semakin berkembang, seiring pertumbuhan UMKM di berbagai wilayah. Produk bakery tidak lagi sekadar makanan, tetapi menjadi identitas dan oleh-oleh khas suatu daerah.
Konsep ini ditandai dengan kembalinya adonan-adonan klasik yang pernah populer, namun dihadirkan dengan sentuhan modern agar tetap relevan dengan selera konsumen masa kini.
Adonan seperti sourdough, brioche, hingga berbagai jenis pastry Eropa kembali diangkat ke permukaan. Meski demikian, menegaskan bahwa kebangkitan adonan klasik ini tidak hadir dalam bentuk lama yang monoton, melainkan dikemas dengan presentasi yang lebih segar dan inovatif.
Chef Rahmat juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap selera lokal, khususnya di Indonesia. Produk bakery ala Barat yang cenderung polos dan minim isian dinilai kurang sesuai dengan karakter konsumen Tanah Air.
“Orang Indonesia itu suka roti yang lembut dan ada isinya. Jadi sekarang sourdough pun mulai dikasih filling. Itu bentuk adaptasi,” jelasnya.
Adaptasi ini menjadi bukti bahwa tren global tidak bisa diterapkan secara mentah.
Inovasi justru lahir ketika baker mampu memadukan teknik internasional dengan preferensi rasa lokal, sehingga menghasilkan produk yang lebih diterima pasar.
Bakery sebagai Identitas dan Oleh-Oleh Daerah
Ke depan, Chef Rahmat melihat travel cake dan produk bakery khas daerah akan semakin berkembang, seiring pertumbuhan UMKM di berbagai wilayah. Produk bakery tidak lagi sekadar makanan, tetapi menjadi identitas dan oleh-oleh khas suatu daerah.
Lihat Juga :