Gaya Hidup Sedentari dan Tren Olahraga Picu Nyeri Otot dan Sendi, Fisioterapi Kian Dibutuhkan

Senin, 12 Januari 2026 - 15:10 WIB
Fisioterapi tak lagi dipandang sebagai layanan pemulihan saat cedera, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Foto/Physiorehab.
JAKARTA - Di kota-kota besar Indonesia, perubahan pola kerja dan gaya hidup yang semakin sedentari berkontribusi terhadap meningkatnya keluhan muskuloskeletal, seperti nyeri punggung, leher, bahu, hingga gangguan fungsi sendi. Aktivitas duduk berkepanjangan, minimnya aktivitas fisik, serta beban kerja yang tinggi menjadi faktor risiko utama pada kelompok usia produktif.

Kondisi ini mendorong meningkatnya kebutuhan akan pelayanan rehabilitasi fisioterapi sebagai intervensi medis yang berfokus pada pemulihan fungsi gerak, pengelolaan nyeri, serta pencegahan cedera berulang. Fisioterapi juga berperan penting dalam menjaga kapasitas fungsional pasien agar tetap optimal dalam menjalani aktivitas sehari-hari.



Baca juga: Perbedaan Fisioterapi dan Ortopedi: Dua Profesi Medis yang Sering Disamakan

Founder sekaligus Head Physiotherapist Physiorehab, Simon Prasetyo, mengatakan, “Fisioterapi kini tidak lagi dipandang semata sebagai layanan pemulihan saat cedera, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Melalui Physiorehab, kami ingin membantu masyarakat memahami tubuhnya dengan lebih baik, menjaga mobilitas, dan tetap aktif secara aman dalam jangka panjang.”

Dari sisi medis, fisioterapi berperan penting dalam membantu pemulihan fungsi gerak pasca-cedera dan pasca-operasi, sekaligus mencegah kekambuhan yang dapat mengganggu produktivitas. Pendekatan rehabilitasi modern menempatkan fisioterapi tidak hanya sebagai terapi kuratif, tetapi sebagai bagian dari manajemen kesehatan jangka panjang berbasis fungsi dan kualitas hidup,’’ujar Simon.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!