Karya Teater Indonesia Tembus La Biennale Venezia 2026, Audio Digarap Riccardo Mazzoni
Rabu, 20 Mei 2026 - 19:01 WIB
Pertunjukan Hikayat Perahu / The Tale of Boat disutradarai oleh Sri Qadariatin, yang sebelumnya dikenal melalui keterlibatannya dalam produksi legendaris karya Robert Wilson seperti I La Galigo dan Persephone.
Diangkat dari karya sastra sufi Melayu Syair Perahu ciptaan Hamzah Fansuri, pertunjukan ini menggambarkan perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan melalui simbolisme sebuah perahu yang mengarungi samudera kehidupan.
Dalam proses produksinya, Riccardo Mazzoni bersama tim Red Studio menangani recording dialog teater, vokal tradisional, instrumen etnik, hingga perkusi budaya Nusantara. Seluruh materi kemudian diproses menggunakan pendekatan sound design sinematik, audio restoration, mixing profesional, dan mastering berstandar internasional.
Menurut Riccardo, proyek ini memiliki tantangan berbeda dibanding produksi musik konvensional.
“Instrumen tradisional dan nyanyian budaya tidak bisa diperlakukan seperti produksi pop biasa. Ada resonansi emosional dan spiritual yang harus tetap hidup. Tugas kami bukan sekadar membuat audio terdengar bagus, tetapi memastikan identitas artistiknya tetap utuh ketika dipresentasikan kepada audiens internasional,” kata Riccardo Mazzoni.
Berbasis di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Red Studio selama ini dikenal aktif mengembangkan karya musik dan budaya dengan pendekatan produksi modern tanpa meninggalkan karakter autentik tradisional.
Diangkat dari karya sastra sufi Melayu Syair Perahu ciptaan Hamzah Fansuri, pertunjukan ini menggambarkan perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan melalui simbolisme sebuah perahu yang mengarungi samudera kehidupan.
Dalam proses produksinya, Riccardo Mazzoni bersama tim Red Studio menangani recording dialog teater, vokal tradisional, instrumen etnik, hingga perkusi budaya Nusantara. Seluruh materi kemudian diproses menggunakan pendekatan sound design sinematik, audio restoration, mixing profesional, dan mastering berstandar internasional.
Menurut Riccardo, proyek ini memiliki tantangan berbeda dibanding produksi musik konvensional.
“Instrumen tradisional dan nyanyian budaya tidak bisa diperlakukan seperti produksi pop biasa. Ada resonansi emosional dan spiritual yang harus tetap hidup. Tugas kami bukan sekadar membuat audio terdengar bagus, tetapi memastikan identitas artistiknya tetap utuh ketika dipresentasikan kepada audiens internasional,” kata Riccardo Mazzoni.
Berbasis di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Red Studio selama ini dikenal aktif mengembangkan karya musik dan budaya dengan pendekatan produksi modern tanpa meninggalkan karakter autentik tradisional.
Lihat Juga :