Cahaya Manthovani, Sosok Muda yang Menyatukan Kreativitas dan Kepedulian Sosial
Jum'at, 22 Mei 2026 - 20:38 WIB
“Nah, untuk menaikkan awareness dengan cara yang menyenangkan itu seperti apa sih? Salah satunya Suara Nusantara. Peserta wajib membaca dan memahami cerita-cerita rakyat di daerah Indonesia. Efek dari event ini bukan saja melestarikan cerita rakyat, tetapi juga meningkatkan percaya diri dan pengalaman para peserta,” ujar Cahaya.
Tak hanya aktif di industri kreatif, Cahaya juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap isu inklusivitas. Sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia aktif menginisiasi berbagai program sosial untuk anak-anak disabilitas.
Salah satu program yang menjadi sorotan ialah inisiatif Makanan Bergizi Gratis-Swasta untuk sekolah khusus/disabilitas di Provinsi Banten. Program tersebut melibatkan 12 UMKM dan menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat.
Selain itu, Cahaya juga menjadi sosok di balik penyelenggaraan Inklusiland yang digelar dalam rangka Hari Disabilitas Internasional. Acara tersebut menghadirkan ruang inklusif yang mempertemukan komunitas, keluarga, pelaku kreatif, hingga publik umum.
Perempuan lulusan Kyungsung University, Korea Selatan tersebut juga pernah bertugas sebagai CDM Asean Youth Paragames 2025 Dubai. Pada ajang olahraga multi event tersebut, kontingen Indonesia sukses mendulang 59 medali, dengan perincian 23 medali emas, 23 medali perak, dan 13 medali perunggu.
Bagi Cahaya, keberhasilan sebuah event tidak bisa dibangun sendirian. Ia percaya kolaborasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan dampak yang lebih luas. “Kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban dunia tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” ujarnya.
“Setiap event yang saya buat, hanya dengan posting di sosial media saja belum cukup. Perlu ada kerja sama dengan sektor lain. Ini ditujukan untuk mencapai audience baru,” lanjut Cahaya.
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi paling banyak di dunia. Beragam isinya, dan juga banyak sekali orang-orang kompeten di bidangnya masing-masing. Saya selalu membuka diri untuk belajar dengan berkolaborasi bersama,” katanya.
Di balik kesuksesannya, Cahaya mengakui perjalanan yang dilaluinya tidak selalu mudah. Ia kerap menghadapi tantangan karena penampilannya yang dianggap terlalu muda.
Tak hanya aktif di industri kreatif, Cahaya juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap isu inklusivitas. Sebagai Ketua Harian Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia aktif menginisiasi berbagai program sosial untuk anak-anak disabilitas.
Salah satu program yang menjadi sorotan ialah inisiatif Makanan Bergizi Gratis-Swasta untuk sekolah khusus/disabilitas di Provinsi Banten. Program tersebut melibatkan 12 UMKM dan menjangkau lebih dari 2.200 penerima manfaat.
Selain itu, Cahaya juga menjadi sosok di balik penyelenggaraan Inklusiland yang digelar dalam rangka Hari Disabilitas Internasional. Acara tersebut menghadirkan ruang inklusif yang mempertemukan komunitas, keluarga, pelaku kreatif, hingga publik umum.
Perempuan lulusan Kyungsung University, Korea Selatan tersebut juga pernah bertugas sebagai CDM Asean Youth Paragames 2025 Dubai. Pada ajang olahraga multi event tersebut, kontingen Indonesia sukses mendulang 59 medali, dengan perincian 23 medali emas, 23 medali perak, dan 13 medali perunggu.
Bagi Cahaya, keberhasilan sebuah event tidak bisa dibangun sendirian. Ia percaya kolaborasi menjadi fondasi utama dalam menciptakan dampak yang lebih luas. “Kita hidup di dunia ini bersama individu lainnya. Peradaban dunia tidak akan berubah tanpa kerja sama dengan sesama,” ujarnya.
“Setiap event yang saya buat, hanya dengan posting di sosial media saja belum cukup. Perlu ada kerja sama dengan sektor lain. Ini ditujukan untuk mencapai audience baru,” lanjut Cahaya.
“Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi paling banyak di dunia. Beragam isinya, dan juga banyak sekali orang-orang kompeten di bidangnya masing-masing. Saya selalu membuka diri untuk belajar dengan berkolaborasi bersama,” katanya.
Di balik kesuksesannya, Cahaya mengakui perjalanan yang dilaluinya tidak selalu mudah. Ia kerap menghadapi tantangan karena penampilannya yang dianggap terlalu muda.
Lihat Juga :