Lagu-lagu Sheila On 7 Jadi Jembatan Emosi di Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis
Kamis, 11 Juni 2026 - 11:06 WIB
Di tengah konflik yang terus berkembang, Dika menemukan ruang untuk mengekspresikan dirinya melalui musik bersama teman-temannya. Dari situlah sebuah lagu menjadi penghubung yang perlahan mempertemukan kembali hati ibu dan anak yang sempat berjauhan.
“Takkan Kubiarkan Kau Menangis" berkisah tentang Dika, seorang remaja yang tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup di mata ibunya, Dini, seorang ibu tunggal yang mencintai anaknya namun dibayangi trauma masa lalu. Di tengah konflik dan kesalahpahaman yang terus berkembang, Dika menemukan tempat untuk menjadi dirinya sendiri melalui musik bersama teman-temannya. Sebuah lagu kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan kembali hati ibu dan anak," kata Ferly Halim.
Menurut Ferly, film tersebut lahir dari realitas yang kerap terjadi dalam kehidupan keluarga Indonesia. Hubungan ibu dan anak sering kali terganggu bukan karena kurangnya cinta, melainkan akibat komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Perbedaan cara berbicara hingga intonasi dapat memicu salah paham yang berkepanjangan.
Melalui film ini, dia ingin menunjukkan bahwa komunikasi menjadi fondasi penting dalam menciptakan hubungan keluarga yang harmonis. Musik pun digambarkan sebagai medium yang mampu menyampaikan perasaan terdalam ketika kata-kata tidak lagi cukup mewakili isi hati.
Ferly juga berharap film ini dapat mengingatkan masyarakat untuk lebih terbuka dalam mengekspresikan kasih sayang kepada orang tua, khususnya ibu. Menurutnya, perhatian sederhana seperti meluangkan waktu berbincang atau memberikan hal kecil yang disukai dapat memiliki makna besar.
“Takkan Kubiarkan Kau Menangis" berkisah tentang Dika, seorang remaja yang tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup di mata ibunya, Dini, seorang ibu tunggal yang mencintai anaknya namun dibayangi trauma masa lalu. Di tengah konflik dan kesalahpahaman yang terus berkembang, Dika menemukan tempat untuk menjadi dirinya sendiri melalui musik bersama teman-temannya. Sebuah lagu kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan kembali hati ibu dan anak," kata Ferly Halim.
Menurut Ferly, film tersebut lahir dari realitas yang kerap terjadi dalam kehidupan keluarga Indonesia. Hubungan ibu dan anak sering kali terganggu bukan karena kurangnya cinta, melainkan akibat komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Perbedaan cara berbicara hingga intonasi dapat memicu salah paham yang berkepanjangan.
Melalui film ini, dia ingin menunjukkan bahwa komunikasi menjadi fondasi penting dalam menciptakan hubungan keluarga yang harmonis. Musik pun digambarkan sebagai medium yang mampu menyampaikan perasaan terdalam ketika kata-kata tidak lagi cukup mewakili isi hati.
Ferly juga berharap film ini dapat mengingatkan masyarakat untuk lebih terbuka dalam mengekspresikan kasih sayang kepada orang tua, khususnya ibu. Menurutnya, perhatian sederhana seperti meluangkan waktu berbincang atau memberikan hal kecil yang disukai dapat memiliki makna besar.
Lihat Juga :