Kasus Penyekapan di Bandung, Pakar IPB Jelaskan Coercive Control dan Dampaknya pada Korban
Rabu, 01 Juli 2026 - 09:50 WIB
Kasus penyekapan di Bandung mengingatkan bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu meninggalkan luka fisik. Foto/Dok/SINDOnews.
JAKARTA - Pakar IPB University memberi tanggapan mengenai kasus penyekapan di Bandung. Bahwa kekerasan dalam hubungan tidak selalu meninggalkan luka fisik dan dampak kekerasan psikologis pun tidak dapat dianggap remeh.
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany menjelaskan mengenai coercive control atau kontrol koersif. Ini adalah pola perilaku manipulatif, intimidatif, dan ancaman yang membuat korban perlahan kehilangan kebebasan, rasa aman, kepercayaan diri, hingga kemampuan mengambil keputusan.
"Yang perlu dikenali bukan hanya satu kejadian, melainkan pola hubungan yang terus mengikis otonomi korban," katanya, melalui siaran pers, Rabu (1/7/2026).
Baca juga: Raffi Ahmad Donasi Rp250 Juta untuk Wanita Korban Penyiksaan Taufik Hidayat
Ia menerangan, konsep yang diperkenalkan Evan Stark ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti mengisolasi korban dari keluarga dan teman, mengontrol komunikasi dan media sosial, membatasi aktivitas, mengatur keuangan secara sepihak, hingga melakukan gaslighting yang membuat korban meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri. Karena berlangsung secara bertahap, perilaku tersebut kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang.
Yulina menjelaskan, banyak orang bertanya mengapa korban tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Menurutnya, jawabannya jauh lebih kompleks daripada sekadar "tidak mau pergi".
Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany menjelaskan mengenai coercive control atau kontrol koersif. Ini adalah pola perilaku manipulatif, intimidatif, dan ancaman yang membuat korban perlahan kehilangan kebebasan, rasa aman, kepercayaan diri, hingga kemampuan mengambil keputusan.
"Yang perlu dikenali bukan hanya satu kejadian, melainkan pola hubungan yang terus mengikis otonomi korban," katanya, melalui siaran pers, Rabu (1/7/2026).
Baca juga: Raffi Ahmad Donasi Rp250 Juta untuk Wanita Korban Penyiksaan Taufik Hidayat
Ia menerangan, konsep yang diperkenalkan Evan Stark ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti mengisolasi korban dari keluarga dan teman, mengontrol komunikasi dan media sosial, membatasi aktivitas, mengatur keuangan secara sepihak, hingga melakukan gaslighting yang membuat korban meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri. Karena berlangsung secara bertahap, perilaku tersebut kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang.
Yulina menjelaskan, banyak orang bertanya mengapa korban tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Menurutnya, jawabannya jauh lebih kompleks daripada sekadar "tidak mau pergi".
Lihat Juga :