Kasus Penyekapan di Bandung, Pakar IPB Jelaskan Coercive Control dan Dampaknya pada Korban
Rabu, 01 Juli 2026 - 09:50 WIB
Baca juga: Korban Disiksa Selama 3 Tahun, Mengapa Tak Melawan? Ini Penjelasan Psikolog!
"Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah 'Mengapa korban tidak pergi?', melainkan 'Faktor apa yang membuat korban sulit pergi?' Korban sering menghadapi ketergantungan emosional, tekanan ekonomi, kekhawatiran terhadap anak, ancaman dari pelaku, hingga minimnya dukungan sosial," ungkapnya.
Secara psikologis, kondisi tersebut dijelaskan melalui teori attachment, fenomena trauma bonding, dan learned helplessness. Korban dapat membentuk ikatan emosional yang kuat dengan pelaku akibat siklus kekerasan yang diselingi permintaan maaf dan janji berubah.
Pengalaman kontrol yang terus berulang juga dapat membuat korban merasa tidak berdaya dan percaya bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.
Iamenambahkan, hubungan yang mengarah pada kekerasan psikologis biasanya berkembang perlahan sehingga sulit dikenali.
Tanda-tandanya antara lain rasa cemburu dan posesif yang berlebihan, mengontrol pergaulan, meminta akses penuh terhadap ponsel dan media sosial, meremehkan pasangan, membuat pasangan terus merasa bersalah, menggunakan ancaman emosional, melakukan gaslighting, hingga love bombing yang kemudian berubah menjadi perilaku mengontrol.
"Korban sering tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan psikologis karena perilaku tersebut berkembang sedikit demi sedikit dan dinormalisasi sebagai bentuk kepedulian," ujarnya.
"Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah 'Mengapa korban tidak pergi?', melainkan 'Faktor apa yang membuat korban sulit pergi?' Korban sering menghadapi ketergantungan emosional, tekanan ekonomi, kekhawatiran terhadap anak, ancaman dari pelaku, hingga minimnya dukungan sosial," ungkapnya.
Secara psikologis, kondisi tersebut dijelaskan melalui teori attachment, fenomena trauma bonding, dan learned helplessness. Korban dapat membentuk ikatan emosional yang kuat dengan pelaku akibat siklus kekerasan yang diselingi permintaan maaf dan janji berubah.
Pengalaman kontrol yang terus berulang juga dapat membuat korban merasa tidak berdaya dan percaya bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.
Iamenambahkan, hubungan yang mengarah pada kekerasan psikologis biasanya berkembang perlahan sehingga sulit dikenali.
Tanda-tandanya antara lain rasa cemburu dan posesif yang berlebihan, mengontrol pergaulan, meminta akses penuh terhadap ponsel dan media sosial, meremehkan pasangan, membuat pasangan terus merasa bersalah, menggunakan ancaman emosional, melakukan gaslighting, hingga love bombing yang kemudian berubah menjadi perilaku mengontrol.
"Korban sering tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami kekerasan psikologis karena perilaku tersebut berkembang sedikit demi sedikit dan dinormalisasi sebagai bentuk kepedulian," ujarnya.
Lihat Juga :