Dokter Indonesia Kembangkan AI untuk Deteksi Dini Gagal Jantung, Pasien Tak Lagi Bolak-balik Masuk RS
Selasa, 14 Juli 2026 - 17:40 WIB
“Setelah kita lihat, salah satu faktor pencetus daripada rehospitalisasi atau rawat berulang, itu adalah kondisi di mana di dalam paru-parunya itu masih ada cairan atau kongesti yang subklinis,” ujarnya pada Selasa (14/7/2026).
“Dokternya tidak mengetahui. Jadi alat dengan stetoskopnya tidak mendengarkan adanya cairan di dalam paru tersebut,” tambahnya.
Untuk itu lah dr. Rony mengembangkan inovasi AI yang mampu menganalisis suara paru-paru. Nantinya alat ini dapat membantu dokter menentukan apakah pasien masih memiliki cairan sehingga belum layak dipulangkan.
“Kita mencoba membuat alat yang bisa membantu dokter. Yang bisa membedakan, ini loh masih ada air, ini loh masih ada cairan. Sehingga pasien yang kita periksa kalau dia positif artinya jangan dipulangin dulu.”
Tak hanya dapat digunakan dokter, pasien nantinya juga bisa menggunakannya secara mandiri di rumah. Pasien bisa menggunakan stetoskop portabel yang dihubungkan ke aplikasi ponsel.
“Dokternya tidak mengetahui. Jadi alat dengan stetoskopnya tidak mendengarkan adanya cairan di dalam paru tersebut,” tambahnya.
Untuk itu lah dr. Rony mengembangkan inovasi AI yang mampu menganalisis suara paru-paru. Nantinya alat ini dapat membantu dokter menentukan apakah pasien masih memiliki cairan sehingga belum layak dipulangkan.
“Kita mencoba membuat alat yang bisa membantu dokter. Yang bisa membedakan, ini loh masih ada air, ini loh masih ada cairan. Sehingga pasien yang kita periksa kalau dia positif artinya jangan dipulangin dulu.”
Tak hanya dapat digunakan dokter, pasien nantinya juga bisa menggunakannya secara mandiri di rumah. Pasien bisa menggunakan stetoskop portabel yang dihubungkan ke aplikasi ponsel.
Lihat Juga :