Efek Instan yang Menyesatkan: Mengapa Jamu Mengandung Bahan Kimia Obat Masih Diminati Masyarakat?
Selasa, 14 Juli 2026 - 12:16 WIB
Pada produk yang diklaim mampu meningkatkan stamina pria, sildenafil sitrat menjadi salah satu bahan kimia obat yang paling sering ditemukan.
Zat tersebut bekerja secara medis untuk kondisi tertentu dan penggunaannya harus berdasarkan indikasi serta pengawasan tenaga kesehatan. Konsumsi tanpa pemeriksaan medis dapat meningkatkan risiko efek samping serius.
Devana menjelaskan, penggunaan sildenafil secara sembarangan dapat menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari masalah jantung, stroke, hingga kematian mendadak pada kondisi tertentu.
Karena itu, efek yang terasa cepat setelah mengonsumsi jamu stamina pria tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti keamanan maupun khasiat produk.
Jamu Pegal Linu Bisa Mengandung Obat Pereda Nyeri
Pada jamu pegal linu, BPOM kerap menemukan parasetamol, deksametason, serta kombinasi natrium diklofenak dan parasetamol.
Kandungan tersebut dapat membuat rasa sakit dan peradangan mereda dalam waktu relatif cepat karena memang bekerja sebagai obat. Namun, pemakaiannya tetap memerlukan dosis yang tepat dan pertimbangan kondisi kesehatan penggunanya.
Deksametason merupakan obat golongan kortikosteroid yang harus digunakan sesuai indikasi medis. Konsumsi dalam jangka panjang tanpa pengawasan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan, termasuk wajah membulat atau moon face, pengeroposan tulang, serta masalah metabolisme.
Natrium diklofenak juga tidak boleh digunakan sembarangan, terutama pada orang dengan riwayat gangguan lambung, ginjal, jantung, atau kondisi kesehatan lainnya.
Bahaya Sibutramin dalam Produk Pelangsing
Pada jamu atau produk pelangsing, sibutramin menjadi salah satu bahan kimia obat yang kerap ditemukan. Zat tersebut dapat menekan nafsu makan sehingga berat badan terlihat lebih cepat turun.
Namun, penurunan berat badan itu bukan berasal dari khasiat bahan alam. Penggunaan sibutramin telah dilarang sejak 2010 karena dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.
“Praktik penambahan BKO memiliki pola yang berulang, yaitu memilih bahan kimia tertentu agar konsumen segera merasakan manfaat, kemudian membangun kepercayaan melalui pengalaman sekali minum langsung terasa,” kata Devana.
Zat tersebut bekerja secara medis untuk kondisi tertentu dan penggunaannya harus berdasarkan indikasi serta pengawasan tenaga kesehatan. Konsumsi tanpa pemeriksaan medis dapat meningkatkan risiko efek samping serius.
Devana menjelaskan, penggunaan sildenafil secara sembarangan dapat menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari masalah jantung, stroke, hingga kematian mendadak pada kondisi tertentu.
Karena itu, efek yang terasa cepat setelah mengonsumsi jamu stamina pria tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti keamanan maupun khasiat produk.
Jamu Pegal Linu Bisa Mengandung Obat Pereda Nyeri
Pada jamu pegal linu, BPOM kerap menemukan parasetamol, deksametason, serta kombinasi natrium diklofenak dan parasetamol.
Kandungan tersebut dapat membuat rasa sakit dan peradangan mereda dalam waktu relatif cepat karena memang bekerja sebagai obat. Namun, pemakaiannya tetap memerlukan dosis yang tepat dan pertimbangan kondisi kesehatan penggunanya.
Deksametason merupakan obat golongan kortikosteroid yang harus digunakan sesuai indikasi medis. Konsumsi dalam jangka panjang tanpa pengawasan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan, termasuk wajah membulat atau moon face, pengeroposan tulang, serta masalah metabolisme.
Natrium diklofenak juga tidak boleh digunakan sembarangan, terutama pada orang dengan riwayat gangguan lambung, ginjal, jantung, atau kondisi kesehatan lainnya.
Bahaya Sibutramin dalam Produk Pelangsing
Pada jamu atau produk pelangsing, sibutramin menjadi salah satu bahan kimia obat yang kerap ditemukan. Zat tersebut dapat menekan nafsu makan sehingga berat badan terlihat lebih cepat turun.
Namun, penurunan berat badan itu bukan berasal dari khasiat bahan alam. Penggunaan sibutramin telah dilarang sejak 2010 karena dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.
“Praktik penambahan BKO memiliki pola yang berulang, yaitu memilih bahan kimia tertentu agar konsumen segera merasakan manfaat, kemudian membangun kepercayaan melalui pengalaman sekali minum langsung terasa,” kata Devana.
Lihat Juga :