Mengenal Rapid Test Antigen yang Gantikan Rapid Test Antibodi
Kamis, 01 Oktober 2020 - 16:02 WIB
"Alat ini bisa digunakan di Indonesia sesuai dengan rekomendasi WHO, menggantikan rapid test antibodi dan fungsi screening yang bisa dilakukan dengan rapid test tersebut menjadi lebih efektif," jelas Wiku.
"Dan, tidak menjadi beban untuk RT PCR sebagai gold standard untuk penegakan diagnosa," lanjutnya.
Sebelumnya, WHO telah mengumumkan kesepakatan untuk membuat rapid test COVID-19 tersedia untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di seluruh dunia. Sebanyak 120 juta rapid test antigen dari dua perusahaan akan dipasok ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, masing-masing seharga USD5 atau Rp74.000, bahkan bisa kurang.
"Sebagian besar dari tes cepat ini akan tersedia untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Tes-tes ini memberikan hasil yang dapat diandalkan dalam waktu sekitar 15 sampai 30 menit, daripada berjam-jam atau hari, dengan harga lebih rendah dengan peralatan yang canggih," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dilansir dari CNN, Kamis (1/10).
Tedros menambahkan, tes vital ini akan membantu memperluas pengujian di daerah terpencil yang tidak memiliki fasilitas laboratorium atau petugas kesehatan yang cukup terlatih untuk melakukan tes PCR. Rapid test antigen bakal menunjukkan di mana virus bersembunyi, yang merupakan kunci untuk dengan cepat melacak dan mengisolasi kontak serta memutus rantai penularan.
"Dan, tidak menjadi beban untuk RT PCR sebagai gold standard untuk penegakan diagnosa," lanjutnya.
Sebelumnya, WHO telah mengumumkan kesepakatan untuk membuat rapid test COVID-19 tersedia untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah di seluruh dunia. Sebanyak 120 juta rapid test antigen dari dua perusahaan akan dipasok ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, masing-masing seharga USD5 atau Rp74.000, bahkan bisa kurang.
"Sebagian besar dari tes cepat ini akan tersedia untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Tes-tes ini memberikan hasil yang dapat diandalkan dalam waktu sekitar 15 sampai 30 menit, daripada berjam-jam atau hari, dengan harga lebih rendah dengan peralatan yang canggih," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, seperti dilansir dari CNN, Kamis (1/10).
Tedros menambahkan, tes vital ini akan membantu memperluas pengujian di daerah terpencil yang tidak memiliki fasilitas laboratorium atau petugas kesehatan yang cukup terlatih untuk melakukan tes PCR. Rapid test antigen bakal menunjukkan di mana virus bersembunyi, yang merupakan kunci untuk dengan cepat melacak dan mengisolasi kontak serta memutus rantai penularan.
Lihat Juga :