Unilever Inisiasi Program Future Foods untuk Majukan Bisnis Berbasis Nabati
Kamis, 19 November 2020 - 00:54 WIB
"Kami tidak bisa menentukan apa yang dikonsumsi oleh masyarakat, tetapi kami bisa mengupayakan agar makanan dengan alternatif nabati dan lebih sehat dapat diakses oleh semua orang. Ini merupakan target yang sangat berani dan luas, tapi komitmen kami untuk bisa menjadi force for goods atau untuk menjadi kekuatan pendorong kebaikan," beber Hanneke melalui siaran resminya, kemarin (18/11).
Sudah diakui secara luas bahwa sistem pangan global saat ini tidak adil dan tak efisien. Satu miliar orang di seluruh dunia kelaparan, sementara dua miliar lain mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Sepertiga dari semua makanan yang diproduksi terbuang begitu saja.
Peternakan adalah kontributor terbesar kedua dari emisi gas rumah kaca (GRK) sesudah bahan bakar fosil, dan menjadi penyebab utama deforestasi, polusi air, udara, serta punahnya keanekaragaman hayati.
(Baca Juga: Bijak Penggunaan Galon Sekali Pakai Bisa Didaur Ulang )
Laporan EAT-Lancet 2019 menunjukkan bahwa pola makan yang kaya akan makanan nabati dan lebih sedikit makanan hewani akan memberikan lebih banyak manfaat bagi kesehatan dan lingkungan.
Sudah diakui secara luas bahwa sistem pangan global saat ini tidak adil dan tak efisien. Satu miliar orang di seluruh dunia kelaparan, sementara dua miliar lain mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Sepertiga dari semua makanan yang diproduksi terbuang begitu saja.
Peternakan adalah kontributor terbesar kedua dari emisi gas rumah kaca (GRK) sesudah bahan bakar fosil, dan menjadi penyebab utama deforestasi, polusi air, udara, serta punahnya keanekaragaman hayati.
(Baca Juga: Bijak Penggunaan Galon Sekali Pakai Bisa Didaur Ulang )
Laporan EAT-Lancet 2019 menunjukkan bahwa pola makan yang kaya akan makanan nabati dan lebih sedikit makanan hewani akan memberikan lebih banyak manfaat bagi kesehatan dan lingkungan.
(tsa)
Lihat Juga :