Hadirkan Ruang Apartemen Ramah Anak Selama Belajar Jarak Jauh
Selasa, 12 Mei 2020 - 20:32 WIB
Selain penataan ruang dengan furnitur yang mendukung, suasana tenang juga berperan penting dalam menjaga efektivitas anak saat belajar. Foto/Istimewa
JAKARTA - Sejak pertengahan Maret 2020, kegiatan belajar mengajar di sekolah diliburkan guna mematuhi kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pada masa PSBB, kegiatan belajar mengajar pun dilakukan di rumah melalui media yang paling efektif seperti program pendidikan di televisi nasional, pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan melalui platform daring, sampai rutinitas mengirimkan video tugas sekolah kepada para guru.
Akan tetapi, di balik efektivitas kegiatan belajar di rumah, anak-anak sering merasa jenuh dan mudah terdistraksi sehingga membuat orangtua kewalahan untuk menyiasati keadaan agar tetap kondusif.
Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil survei “Ada Apa dengan COVID-19” yang dihimpun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang menunjukkan bahwa 58% anak tidak merasa senang selama menjalani kebijakan belajar di rumah. Selain disebabkan biaya kuota internet yang semakin mahal, 38% anak merasa sekolah belum memiliki program yang baik untuk menerapkan kegiatan belajar di rumah. (Baca Juga: Anak Belajar Berpuasa, Asupan Gizi Tetap Harus Terpenuhi)
Maka, untuk menanggapi hal tersebut, KPPPA mengimbau agar proses pendampingan selama belajar di rumah menjadi tanggung jawab bersama orangtua dan lembaga pendidikan. Oleh karena itu, orangtua pun berupaya menghadirkan suasana hunian yang lebih ramah anak sekaligus kondusif untuk belajar di rumah, baik dari segi pengaturan waktu, kuota internet yang memadai, koordinasi dengan guru, tata ruang yang mendukung, maupun lingkungan asri yang menghadirkan kenyamanan untuk belajar.
Akan tetapi, di balik efektivitas kegiatan belajar di rumah, anak-anak sering merasa jenuh dan mudah terdistraksi sehingga membuat orangtua kewalahan untuk menyiasati keadaan agar tetap kondusif.
Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil survei “Ada Apa dengan COVID-19” yang dihimpun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang menunjukkan bahwa 58% anak tidak merasa senang selama menjalani kebijakan belajar di rumah. Selain disebabkan biaya kuota internet yang semakin mahal, 38% anak merasa sekolah belum memiliki program yang baik untuk menerapkan kegiatan belajar di rumah. (Baca Juga: Anak Belajar Berpuasa, Asupan Gizi Tetap Harus Terpenuhi)
Maka, untuk menanggapi hal tersebut, KPPPA mengimbau agar proses pendampingan selama belajar di rumah menjadi tanggung jawab bersama orangtua dan lembaga pendidikan. Oleh karena itu, orangtua pun berupaya menghadirkan suasana hunian yang lebih ramah anak sekaligus kondusif untuk belajar di rumah, baik dari segi pengaturan waktu, kuota internet yang memadai, koordinasi dengan guru, tata ruang yang mendukung, maupun lingkungan asri yang menghadirkan kenyamanan untuk belajar.
Lihat Juga :