Waspadai Obesitas Saat Pandemi

Kamis, 10 Desember 2020 - 06:45 WIB
“Orang tua harus mengajarkan anak-anaknya agar memiliki gaya hidup yang sehat, mulai dari makan makanan sehat hingga melakukan aktivitas fisik,” kata Hungate. Jumlah anak muda yang mengalami kelebihan berat badan juga meningkat selama pandemi. Mereka juga berisiko mengalami obesitas di kemudian hari.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS juga menyalakan alarm peringatan. Mereka menyatakan saat ini sebanyak 12 dari 50 negara bagian di AS memiliki tingkat obesitas di atas 35% atau lebih tinggi, bandingkan dengan sebelumnya yang hanya enam negara bagian. (Baca juga: Unsoed Kukuhkan 4 Guru Besar Baru)

Berdasarkan penelitian terbaru, penderita obesitas berisiko lebih tinggi terinfeksi Covid-19 dan lebih sulit divaksinasi. Sekitar 73% pasien Covid-19 di AS juga menderita obesitas. Sejak Maret lalu, CDC memperingatkan tekanan darah tinggi, diabetes, dan penyakit jantung umum ditemukan di pasien Covid-19.

Penelitian terhadap 10.000 pasien Covid-19 di AS juga menunjukkan pasien yang menderita obesitas kondisinya lebih buruk dan rentan meninggal dunia. Ahli obesitas Cate Varney dari University of Virginia mengatakan pencegahan obesitas sulit karena makan lebih sedikit dan olahraga lebih banyak sulit dipraktikkan. “Kami para dokter dan peneliti memahami bahwa obesitas memiliki konsekuensi jangka panjang dan menjadi tantangan yang lebih sulit di tengah pandemi,” kata Varney, dilansir Inquirer.

Obesitas tidak hanya mengintai anak muda di AS, tetapi juga Kanada. Berdasarkan studi Leger and the Association for Canadian Studies, sekitar 1/3 warga Kanada mengaku mengalami kenaikan berat badan selama pandemi. Sebanyak 32% warga Kanada, kini mengonsumsi makanan lebih banyak dan jarang berolahraga. (Baca juga: Mau Suntik Vaksin Covid-19, Lihat Dulu Daftar Harganya!)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!