Teknologi Jadi Kunci Keberhasilan Perempuan Modern
Sabtu, 19 Desember 2020 - 10:30 WIB
Di sisi lain, melalui jahitin.com, Asri Wijayanti kini telah membantu meningkatkan pendapatan dan memberikan kemudahan para penjahit dalam meraih pelanggan. Sekitar 200 penjahit telah bergabung dalam startup lokal yang didirikan pada 2016 ini.
"Bermula dari keresahan saat mengetahui para penjahit sering dibayar murah, saya tergerak untuk membantu mereka yang sebagian besar perempuan. Animo dari meraka ketika saya sosialisasikan aplikasi ini sangat tinggi, karena memang rasa ingin belajar sesuatu yang baru dari kaum perempuan lebih tinggi," tambahnya.
Dari sinilah Asri melihat bahwa kemajuan teknologi digital bisa menjadi alat bagi perempuan untuk lebih berpartisipasi dalam berbagai bidang sekaligus mempromosikan kesetaraan gender. "Kaum perempuan dapat menjadi pahlawan bagi siapa saja di era digital ini, selama mereka mendapatkan kesempatan yang sama dan didukung dengan tools yang tepat dalam berkarya," tegasnya.
Pemerhati gender dan akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tri Sulistyaningsih, mengatakan, peran perampuan di dunia kerja semakin penting. Terlebih lagi di era industri 4.0, ditambah tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) jumlah perempuan yang mendalami dunia teknologi masih di bawah kalangan laki-laki. Berdasarkan data pusat Statistik (BPS) TPAK laki-laki sebesar 83,01%, sedangkan perempuan hanya 55,44%.
"Meski sudah lebih dari 50% masih ada kesenjangan akses dan penguasaan teknologi antara perempuan dan laki-laki," tutur Tri.
Di sisi lain, Tri menilai perempuan Indonesia sebenarnya termasuk pengguna internet aktif. Namun sayangnya, mereka memiliki literasi digital yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan dan latar belakang pendidikan yang rendah. (aprilia s andyna)
"Bermula dari keresahan saat mengetahui para penjahit sering dibayar murah, saya tergerak untuk membantu mereka yang sebagian besar perempuan. Animo dari meraka ketika saya sosialisasikan aplikasi ini sangat tinggi, karena memang rasa ingin belajar sesuatu yang baru dari kaum perempuan lebih tinggi," tambahnya.
Dari sinilah Asri melihat bahwa kemajuan teknologi digital bisa menjadi alat bagi perempuan untuk lebih berpartisipasi dalam berbagai bidang sekaligus mempromosikan kesetaraan gender. "Kaum perempuan dapat menjadi pahlawan bagi siapa saja di era digital ini, selama mereka mendapatkan kesempatan yang sama dan didukung dengan tools yang tepat dalam berkarya," tegasnya.
Pemerhati gender dan akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tri Sulistyaningsih, mengatakan, peran perampuan di dunia kerja semakin penting. Terlebih lagi di era industri 4.0, ditambah tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) jumlah perempuan yang mendalami dunia teknologi masih di bawah kalangan laki-laki. Berdasarkan data pusat Statistik (BPS) TPAK laki-laki sebesar 83,01%, sedangkan perempuan hanya 55,44%.
"Meski sudah lebih dari 50% masih ada kesenjangan akses dan penguasaan teknologi antara perempuan dan laki-laki," tutur Tri.
Di sisi lain, Tri menilai perempuan Indonesia sebenarnya termasuk pengguna internet aktif. Namun sayangnya, mereka memiliki literasi digital yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan dan latar belakang pendidikan yang rendah. (aprilia s andyna)
(wan)
Lihat Juga :