Kisah Ibu Asuh yang Rawat Anak-Anak di Children's Villages Indonesia
Rabu, 23 Desember 2020 - 04:24 WIB
Ratusan ibu di SOS Children’s Villages adalah ibu yang tanpa melahirkan anak-anak SOS, mampu melimpahkan kasih sayang yang besar sehingga anak tak pernah merasa sendiri. Seperti cerita Ibu Yusmanidar yang sudah mendedikasikan diri menjadi ibu asuh selama 14 tahun di SOS Children's Village Meulaboh.
Tsunami Aceh 2004 membawa luka yang cukup dalam bagi masyarakat Aceh. Ratusan ribu orang menjadi korban dari gelombang dahsyat yang menyapu daratan Serambi Mekkah. Seorang ibu bernama Yusmanidar menjadi saksi dan korban, dia kehilangan suaminya dalam peristiwa 16 tahun lalu itu. Yusmanidar dan dua putrinya berhasil bertahan. Sejak itu, dia harus menjadi tulang punggung sendirian.
Tepat 1 Juli 2006, dia mendedikasikan diri untuk mengasuh anak-anak yang kehilangan pengasuhan orang tua pasca tsunami. Kini, sudah 14 tahun Yusmanidar mengabdi sebagai ibu dan sudah 17 anak yang dia rawat dan besarkan. Layaknya sebuah keluarga, tawa dan tangis menjadi makanannya sehari-hari. Tahun 2017 menjadi titik balik kehidupannya tatkala dia diberi amanah untuk menjaga seorang anak berkebutuhan khusus bernama Annisa.
Yusmanidar merawat Annisa sejak lahir dan menjadi anak asuh di SOS Children's Village Meulaboh. Perjuangannya cukup panjang. Annisa yang mengidap cerebral palsy, harus bolak-balik ke rumah sakit. Setiap bulan, Yusmanidar juga harus mengambil obat untuk Annisa dan dua kali seminggu, Annisa harus pergi terapi.
"Sejak merawat Annisa yang merupakan anak istimewa, saya tidak pernah merasa terbebani. Annisa justru menjadi kekuatan bagi saya. Bahkan, mengasuh Annisa adalah sumber kebahagiaan," cerita Yusmanidar melalui keterangan pers SOS Children's Villages Indonesia, Selasa (22/12).
Tsunami Aceh 2004 membawa luka yang cukup dalam bagi masyarakat Aceh. Ratusan ribu orang menjadi korban dari gelombang dahsyat yang menyapu daratan Serambi Mekkah. Seorang ibu bernama Yusmanidar menjadi saksi dan korban, dia kehilangan suaminya dalam peristiwa 16 tahun lalu itu. Yusmanidar dan dua putrinya berhasil bertahan. Sejak itu, dia harus menjadi tulang punggung sendirian.
Tepat 1 Juli 2006, dia mendedikasikan diri untuk mengasuh anak-anak yang kehilangan pengasuhan orang tua pasca tsunami. Kini, sudah 14 tahun Yusmanidar mengabdi sebagai ibu dan sudah 17 anak yang dia rawat dan besarkan. Layaknya sebuah keluarga, tawa dan tangis menjadi makanannya sehari-hari. Tahun 2017 menjadi titik balik kehidupannya tatkala dia diberi amanah untuk menjaga seorang anak berkebutuhan khusus bernama Annisa.
Yusmanidar merawat Annisa sejak lahir dan menjadi anak asuh di SOS Children's Village Meulaboh. Perjuangannya cukup panjang. Annisa yang mengidap cerebral palsy, harus bolak-balik ke rumah sakit. Setiap bulan, Yusmanidar juga harus mengambil obat untuk Annisa dan dua kali seminggu, Annisa harus pergi terapi.
"Sejak merawat Annisa yang merupakan anak istimewa, saya tidak pernah merasa terbebani. Annisa justru menjadi kekuatan bagi saya. Bahkan, mengasuh Annisa adalah sumber kebahagiaan," cerita Yusmanidar melalui keterangan pers SOS Children's Villages Indonesia, Selasa (22/12).
Lihat Juga :