Selain Kearifan Lokal, Ini Pesan yang Hendak Disampaikan Film Telu
Minggu, 03 Januari 2021 - 23:21 WIB
Telu berkisah seputar keluarga Mbah Atmo, seorang seniman Jawa di rumah dan pendopo tarinya yang menyuguhkan berbagai tutur dan pola luhur Jawa. / Foto: ist
JAKARTA - Film pendek Telu garapan Gejos Film menyajikan kemasan yang ringan dan berdasar keseharian masyarakat berbalut budaya Jawa berlatar suasana desa di Yogyakarta. Film yang hadir di pengujung 2020 dan awal 2021 ini mengingatkan masyarakat agar jangan meninggalkan budaya dan kearifan lokal di tengah arus modernisasi dan penetrasi budaya luar.
(Baca juga: Sederet Artis Ini Kecanduan Sinetron Ikatan Cinta )
Tayang perdana melalui YouTube pada akhir tahun, 31 Desember 2020, Telu berkisah seputar keluarga Mbah Atmo, seorang seniman Jawa di rumah dan pendopo tarinya yang menyuguhkan berbagai tutur dan pola luhur Jawa yang tak mati dilekang waktu.
Executive Producer II film Telu, Brilliana Arfira, melalui keterangan tertulisnya, Minggu (3/1), mengungkapkan jika pihaknya ingin menunjukkan bahwa masih ada keluarga yang memiliki tata krama, unggah ungguh dalam berkehidupan sehari-hari di tengah penetrasi budaya luar. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sudah mulai hilang saat ini.
Di samping menonjolkan upaya mendongkrak kembali nilai-nilai dan pentingnya tata krama, Telu juga menyuguhkan dialog yang mudah dicerna, terutama bagi kalangan milenial. "Cerita ringan sehari-hari seperti kehilangan pisang atau menjual burung kesayangan bakal hadir dalam penggambaran konflik di rumah Mbah Atmo ini," ungkap Brilliana.
(Baca juga: Sederet Artis Ini Kecanduan Sinetron Ikatan Cinta )
Tayang perdana melalui YouTube pada akhir tahun, 31 Desember 2020, Telu berkisah seputar keluarga Mbah Atmo, seorang seniman Jawa di rumah dan pendopo tarinya yang menyuguhkan berbagai tutur dan pola luhur Jawa yang tak mati dilekang waktu.
Executive Producer II film Telu, Brilliana Arfira, melalui keterangan tertulisnya, Minggu (3/1), mengungkapkan jika pihaknya ingin menunjukkan bahwa masih ada keluarga yang memiliki tata krama, unggah ungguh dalam berkehidupan sehari-hari di tengah penetrasi budaya luar. Hal tersebut merupakan sesuatu yang sudah mulai hilang saat ini.
Di samping menonjolkan upaya mendongkrak kembali nilai-nilai dan pentingnya tata krama, Telu juga menyuguhkan dialog yang mudah dicerna, terutama bagi kalangan milenial. "Cerita ringan sehari-hari seperti kehilangan pisang atau menjual burung kesayangan bakal hadir dalam penggambaran konflik di rumah Mbah Atmo ini," ungkap Brilliana.
Lihat Juga :