Mengenal Xenophobia, Ketakutan yang Menyeret Jisoo BLACKPINK
Rabu, 20 Januari 2021 - 20:07 WIB
Di antaranya adalah merasa tidak nyaman di sekitar orang-orang yang termasuk dalam kelompok yang berbeda. Berusaha keras untuk menghindari area tertentu. Menolak berteman dengan orang lain hanya karena warna kulit, cara berpakaian, atau faktor eksternal lainnya. Kesulitan menanggapi supervisor dengan serius atau berhubungan dengan rekan satu tim yang tidak termasuk dalam kelompok ras, budaya, atau agama yang sama.
Meskipun ini mewakili ketakutan yang sebenarnya, kebanyakan orang xenophobia tidak benar-benar fobia. Sebaliknya, istilah tersebut paling sering digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang mendiskriminasi orang asing dan pendatang.
Baca juga: Gara-Gara Hal Ini, Tiga Member Blackpink Tuding Jisoo Pembohong
Orang yang mengekspresikan xenophobia biasanya percaya bahwa budaya atau bangsanya lebih unggul, ingin menjauhkan imigran dari komunitasnya, dan bahkan mungkin melakukan tindakan yang merugikan mereka yang dianggap sebagai orang luar.
Xenophobia tidak dikenali sebagai gangguan mental dalam manual diagnostik dan statistik gangguan mental (DSM-5). Namun, beberapa psikolog dan psikiater telah menyarankan bahwa rasisme dan prasangka yang ekstrim harus diakui sebagai masalah kesehatan mental.
Meskipun ini mewakili ketakutan yang sebenarnya, kebanyakan orang xenophobia tidak benar-benar fobia. Sebaliknya, istilah tersebut paling sering digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang mendiskriminasi orang asing dan pendatang.
Baca juga: Gara-Gara Hal Ini, Tiga Member Blackpink Tuding Jisoo Pembohong
Orang yang mengekspresikan xenophobia biasanya percaya bahwa budaya atau bangsanya lebih unggul, ingin menjauhkan imigran dari komunitasnya, dan bahkan mungkin melakukan tindakan yang merugikan mereka yang dianggap sebagai orang luar.
Xenophobia tidak dikenali sebagai gangguan mental dalam manual diagnostik dan statistik gangguan mental (DSM-5). Namun, beberapa psikolog dan psikiater telah menyarankan bahwa rasisme dan prasangka yang ekstrim harus diakui sebagai masalah kesehatan mental.
(tdy)
Lihat Juga :