Gamelan Jawa di Lereng Matterhorn, Logat Wong Tegal made in Swiss

Sabtu, 16 Mei 2020 - 08:37 WIB
Sebab, imbuh Timothee, tidak semua penabuh gamelannya memiliki pengalaman dengan gamelan Jawa . 'Bahkan ada yang tidak pernah sama sekali,''katanya.

Juga, usia mereka ada yang baru menginjak 6 atau 7 tahun. Khusus untuk melatih lafal Ricik Ricik Banyumasan, yang bagi orang asing sangat menyiksa lidah, Timothee mengharuskan anak asuhnya menghafalkan di rumah. ''Kami merekam lagu tersebut dengan suara asli orang Indonesia, dan dengan teksnya, mereka mencoba menyanyikannya, di rumah, ''katanya.

Baca Juga: Bagaimana Imbas Kanker terhadap Pasien Kanker?

Sedangkan penabuh gamelannya, berlatih rutin selama 2 bulan. ''Kami saling membantu. Yang sudah pengalaman, menunjukkan bermain yang betul kepada yang lain,''imbuhnya.

Beberapa penabuh gamelan, kata Timothee, juga bisa memainkan multi instrumen. ''Itu memudahkan kami memainkan repertoire ini,'' katanya.

Linggawaty Hakim, mantan Dubes RI untuk Swiss, mengaku kagum dengan permainan murid Sekolah Musik 123. ''Mereka memiliki dasar sekolah musik, bukan hanya main gamelan semata. Apa yang ditampilkan, sangat mengagumkan, Ada latar belakang akademis musik, lalu main gamelan. Paduan yang sempurna,''puji Linggawati.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!