Ini yang Terjadi pada Otak Manusia saat Senang Dapat Follower Baru di Media Sosial
Kamis, 04 Februari 2021 - 17:45 WIB
Baca Juga: 15 Kata Gaul yang Lagi Viral di Media Sosial
Sebagai neurotransmiter, efek dari dopamin bisa membuat seseorang menjadi bahagia dan bahkan mabuk apabila jumlahnya berlebihan. Ia menambahkan, hal ini dapat dipicu secara khusus oleh perilaku komparatif, yaitu saat seseorang membandingkan jumlah pengikutnya dengan orang lain.
Foto: Pixabay
“Ini adalah bahan kimia yang terkait dengan kesenangan. Jumlah pengikut yang tidak dapat diprediksi menambah aspek sensasi yang membuatnya tetap menarik,” katanya.
Bukan cuma itu, seorang psikoterapis, LCSW (Licensed Clinical Social Worker), bernama Elizabeth Beecroft menyebut, apabila seseorang cenderung memantau jumlah pengikut di akun media sosialnya, hal tersebut dapat memicu munculnya kecemasan . Sebab munculnya kecemasan dikarenakan adanya keinginan untuk mempertahankan jumlah pengikut dan status (popularitas) yang telah diraih sebelumnya.
“Banyak pengikut dapat berarti bahwa seseorang memiliki lebih banyak ‘mata’ untuk menonton dan melihat akunnya, yang dapat menimbulkan gejala kecemasan seputar keinginan untuk mempertahankan statusnya tersebut,” jelas Elizabeth.
Foto: Pixabay
Tidak dapat dimungkiri memang, bahwa dengan adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali dari pemerintah membuat sebagian orang memilih di rumah saja, dan lebih banyak bermain media sosial supaya tetap saling terkoneksi dengan teman-teman lainnya. Namun, hal tersebut seharusnya tidak menimbulkan sejumlah masalah lain seperti kasus di atas, bukan?
Sebagai neurotransmiter, efek dari dopamin bisa membuat seseorang menjadi bahagia dan bahkan mabuk apabila jumlahnya berlebihan. Ia menambahkan, hal ini dapat dipicu secara khusus oleh perilaku komparatif, yaitu saat seseorang membandingkan jumlah pengikutnya dengan orang lain.
Foto: Pixabay
“Ini adalah bahan kimia yang terkait dengan kesenangan. Jumlah pengikut yang tidak dapat diprediksi menambah aspek sensasi yang membuatnya tetap menarik,” katanya.
Bukan cuma itu, seorang psikoterapis, LCSW (Licensed Clinical Social Worker), bernama Elizabeth Beecroft menyebut, apabila seseorang cenderung memantau jumlah pengikut di akun media sosialnya, hal tersebut dapat memicu munculnya kecemasan . Sebab munculnya kecemasan dikarenakan adanya keinginan untuk mempertahankan jumlah pengikut dan status (popularitas) yang telah diraih sebelumnya.
“Banyak pengikut dapat berarti bahwa seseorang memiliki lebih banyak ‘mata’ untuk menonton dan melihat akunnya, yang dapat menimbulkan gejala kecemasan seputar keinginan untuk mempertahankan statusnya tersebut,” jelas Elizabeth.
Foto: Pixabay
Tidak dapat dimungkiri memang, bahwa dengan adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali dari pemerintah membuat sebagian orang memilih di rumah saja, dan lebih banyak bermain media sosial supaya tetap saling terkoneksi dengan teman-teman lainnya. Namun, hal tersebut seharusnya tidak menimbulkan sejumlah masalah lain seperti kasus di atas, bukan?
Lihat Juga :