Novel Paradigma: Mengulas Stigma Kesehatan Mental sampai Isu Sosial

Senin, 01 Maret 2021 - 22:00 WIB
Dalam kehidupan sosial saat ini, orang-orang yang berusaha mengeluarkan emosinya akan dibilanglebay, cari perhatian, dan sebagainya.

Baca Juga: Gangguan Psikologi yang Sering Dialami Idola K-Pop dan Rentan Buat Anak Muda

Contohnya saja, ketika beberapa orang berusaha mengungkapkan emosinya di media sosial lewat caption puitis. Orang-orang langsung saja memberi cap ke indie-indie-an. Terlebih lagi laki-laki, mereka tidak bisa mengeluarkan emosi lembutnya karena stigma masyarakat yang menganggap laki-laki harus kuat dan tidak boleh menye-menye.

“Maskulinitas menggerus sisi-sisi feminis para lelaki. Rana tak suka hal itu karena bisa membelokkan hakikat laki-laki yang juga adalah manusia.” (hal.168). Padahal mengeluarkan emosi dalam bentuk apa pun merupakan hak setiap manusia. Tak peduli jenis kelamin, ras, suku, agama, bahkan sampai genre musik sekalipun.



Foto: Dok. Septi Kurnia

Di Indonesia gangguan kesehatan mental masih terdengar asing dan begitu jauh. Orang-orang yang memiliki gangguan mental langsung dicap sebagai orang yang patut untuk dijauhi. Padahal, sama halnya seperti penyakit fisik lainnya, gangguan mental juga dapat diobati dengan psikoterapi atau obat-obatan.

Bahkan tak jarang masyarakat mengaitkan gangguan mental dengan keimanan seseorang. Dalam buku ini diperlihatkan tanggapan dosen Rana yang tidak terima karena punya mahasiswa yang memiliki kepribadian lain yang merupakan ibunya sendiri. Ia berkata, “Saya kira anak ini bisa jadi salah satu contoh akibat dari manusia yang jauh dari agama. Lihat dia, jadi gila. Bikin rusuh. Bikin orang-orang jadi takut. ...” (hal.231).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!