Mengenal Sindrom Stendhal, Gangguan Fisik dan Mental yang Disebabkan Keindahan Karya Seni

Senin, 08 Maret 2021 - 08:31 WIB
Anekdot yang menggambarkan efek hebat dari karya seni luar biasa pada manusia, berasal dari setidaknya abad ke-19. Magherini pertama kali menggambarkan fenomena ini dalam sebuah buku yang dia terbitkan pada 1989, berjudul La Sindrome di Stendhal (The Stendhal Syndrome).

Nama tersebut berdasarkan sebuah episode yang dijelaskan oleh penulis Prancis, Stendhal, dalam memoar perjalanannya ke Naples dan Florence: A Journey from Milan to Reggio, tentang perjalanan yang dia lakukan melalui Italia pada 1817.

Rasa kagum yang dialami karena berada di dekat begitu banyak monumen bersejarah dan seni yang mengesankan diduga membuat jantung penulis berdebar-debar dan menjadikannya pingsan.

Seorang profesor dan pembaca buku tersebut di School of Modern Languages and Cultures di University of Warwick di Coventry, Inggris Raya, Dr. Fabio Camilletti menjelaskan bahwa sindrom stendhal dapat didefinisikan sebagai respons psikosomatis (mental dan fisik) yang dialami saat menghadapi keindahan estetika tetapi bukan kecantikan alami.

Dalam penelitian aslinya, Dr. Magherini mengidentifikasi tiga jenis gejala utama pada orang yang menderita sindrom stendhal. Di antaranya persepsi suara atau warna yang berubah, serta rasa cemas, bersalah, atau penganiayaan yang meningkat, kecemasan depresi, rasa tidak mampu, atau, sebaliknya, rasa euforia atau serangan panik dan gejala fisiologis dari kecemasan yang meningkat seperti nyeri dada.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!