Kita Muda Kreatif Tampilkan Kisah Inspiratif Para Perempuan Penenun

Rabu, 24 Maret 2021 - 18:37 WIB
Pada kesempatan kali ini, seorang perempuan penenun ulos dan pemilik Soit Tenun Ulos dari Tapanuli Utara, Toba, Sartika Martilova Sihombing berbagi pengalamannya. "Sebagai penenun ulos, pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang berat. Awal pandemi saya sempat pesimistis bisa bertahan sebagai penenun ulos, karena pesanan tenun ulos turun drastis," ungkapnya dalam siaran pers Citi Foundation, Rabu (24/3).

"Setelah beberapa bulan masa pandemi, saya mulai bangkit dan semangat lagi. Salah satu yang membuat semangat bertenun saya kembali adalah pendampingan program Kita Muda Kreatif dari UNESCO-Citi Indonesia. Ketika mengikuti berbagai pelatihan daring, saya melihat ternyata bukan hanya saya yang terdampak Covid-19, teman-teman para wirausaha muda lain juga ikut terdampak. Dari situ kami saling berbagi informasi dan bertukar pengalaman tentang cara untuk tetap bertahan," tuturnya.

Di lain tempat, Ketua Kelompok Nina Penenun dari Pringgasela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Sri Hartini memaparkan kisahnya. "Kami berharap UNESCO bisa membantu kami meregenerasi penenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan. Dengan berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kapasitas anak muda di bidang tenun, kami yakin kami akan bisa mempertahankan budaya menenun di sini," ujarnya.

"Kelompok Nina Penenun berkomitmen untuk melestarikan tenun yang ada di Pringgasela. Tindak nyatanya kami mengajari anak-anak kami di Pringgasela Selatan untuk menenun melalui sekolah tenun. Para ibu-ibu anggota kami sosialisasikan untuk mengajari anak-anaknya menenun. Kami yakin dengan program-program yang kami lakukan kelestarian tenun yang ada di Desa Pringgasela Selatan dapat terjaga," lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Irini Dewi Wanti, SS., M.SP memaparkan pentingnya peran penenun atau lebih dikenal dengan nama Partonun di Tapanuli.

"Mereka adalah pekerja seni, menenun bukan hanya masalah ekonomi keluarga tapi juga mewarisi budaya. Partonun bekerja demi kelangsungan warisan mahakarya nenek moyang, menjaga filosofi hidup orang Batak, serta kemahiran tradisional yang tidak semua orang dapat melakukannya. Karenanya Partonum Perempuan adalah penjaga budaya, dalam masa krisis apapun dia akan tetap bertenun, karena sebagai seniman ia akan tenggelam dalam dunianya. Seberapapun hasil yang diterima maka itulah yang mereka jalani, selanjutnya adalah tugas kita membantu menyejahterakan mereka," jelasnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!