Si Kecil Bercita-cita Jadi Influencer? Psikolog: Orang Tua Harus Dukung
Selasa, 08 Juni 2021 - 15:03 WIB
Menurut Mei, yang penting adalah orang tua mendukung cita-cita tersebut, membimbing dengan tepat, dan mengarahkannya ke jalur yang sesuai. Pasalnya, ketika ada penolakan di sana, dikhawatirkan akan membuat rasa kepercayaan diri si anak bakal runtuh dan malah menghancurkan ekspektasi dirinya.
"Dukung cita-cita tersebut. Sembari itu, bekali mereka dengan pola pikir yang benar tentang kesuksesan dan kegagalan, latih mereka tentang bagaimana cara menyeimbangkan studi atau sekolah dan aktivitas online, dan bagaimana mewujudkan cita-cita, dan yang terpenting, bagaimana bijak menggunakan media sosial sehingga platformnya dapat dijadikan alat yang tepat dan aman untuk menciptakan pengalaman di dunia maya," terang Mei.
Apabila anak Anda ingin menjadi Youtuber atau influencer, sambung Mei, penting juga Anda sebagai orang tua memberikan psikoedukasi agar saat membuat konten, jangan hanya mengejar viewers atau subscriber, namun ada pertanggung jawaban moral sesuaikan dengan norma agama dan norma yang berlaku di masyarakat dan harus mendidik.
"Psikoedukasi ini penting agar mereka sedini mungkin belajar memikirkan dampak yang lebih luas," ucapnya.
Mei tak menampik bahwa tidak ada jaminan mengenai pekerjaan atau profesi sebagai influencer tersebut akan terus bertahan atau memiliki masa depan. Tapi, untuk jangka menengah, hal ini mungkin terlihat menjanjikan.
Namun, jika dibuat sebagai acuan jangka panjang, maka harus dipikirkan kembali. "Yang terpenting mereka memiliki motivasi dan terarah karena semua pekerjaan tidak bisa dibangun hanya dalam waktu semalam. Menjadi influencer yang sukses pun perlu modal dan waktu," kata Mei.
"Dukung cita-cita tersebut. Sembari itu, bekali mereka dengan pola pikir yang benar tentang kesuksesan dan kegagalan, latih mereka tentang bagaimana cara menyeimbangkan studi atau sekolah dan aktivitas online, dan bagaimana mewujudkan cita-cita, dan yang terpenting, bagaimana bijak menggunakan media sosial sehingga platformnya dapat dijadikan alat yang tepat dan aman untuk menciptakan pengalaman di dunia maya," terang Mei.
Apabila anak Anda ingin menjadi Youtuber atau influencer, sambung Mei, penting juga Anda sebagai orang tua memberikan psikoedukasi agar saat membuat konten, jangan hanya mengejar viewers atau subscriber, namun ada pertanggung jawaban moral sesuaikan dengan norma agama dan norma yang berlaku di masyarakat dan harus mendidik.
"Psikoedukasi ini penting agar mereka sedini mungkin belajar memikirkan dampak yang lebih luas," ucapnya.
Mei tak menampik bahwa tidak ada jaminan mengenai pekerjaan atau profesi sebagai influencer tersebut akan terus bertahan atau memiliki masa depan. Tapi, untuk jangka menengah, hal ini mungkin terlihat menjanjikan.
Namun, jika dibuat sebagai acuan jangka panjang, maka harus dipikirkan kembali. "Yang terpenting mereka memiliki motivasi dan terarah karena semua pekerjaan tidak bisa dibangun hanya dalam waktu semalam. Menjadi influencer yang sukses pun perlu modal dan waktu," kata Mei.
Lihat Juga :