Kanker Paru Masih Jadi Masalah Utama Kesehatan di Dunia

Jum'at, 29 Mei 2020 - 05:15 WIB
"Jadi keterlambatan seperti ini memang bukan hanya di Indonesia, di negara lain juga banyak, tetapi di negara lain ada screening, kita tidak ada. Screening itu memang dianjurkan terutama bagi mereka yang berisiko seperti usia di atas 55 tahun, perokok berat itu harus di-screening dengan CT scan," papar dr Sita.

Lebih lanjut, dia mengutarakan bahwa penggunaan rokok elektrik atau vape pun patut diwaspadai karena penelitian menunjukkan adanya kesamaaan antara kadar nikotin vape dengan rokok biasa. "Ini sama-sama berbahaya karena adanya asap yang masuk ke paru. Di Amerika, sudah ada kasus paru karena vape dan ada juga tiba-tiba terjadi gagal napas, itu bisa disebabkan oleh bahan kimia dari vape yang menyebabkan kerusakan paru," terang dr Sita.

dr Sita menyarankan agar selalu menghindari atau berhenti merokok. Apabila memiliki keluhan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas untuk segera pergi ke rumah sakit dan melakukan foto rontgen.

"Angka kejadian kanker paru di daerah atau di perkotaan sama saja, yang paling penting adalah angka kanker paru pada perempuan makin lama makin meningkat yang diakibatkan oleh gaya hidup yang buruk. Selain itu, perempuan juga menjadi perokok pasif, di mana menjadi perokok pasif itu 4 kali lipat berisiko terkena kanker paru," pungkas dr Sita.
(nug)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!