Ramen Ini Terbuat dari Jangkrik, Anda Berani Coba?

Senin, 01 Juni 2020 - 11:30 WIB
"Saya tidak bisa memberi tahu siapa pun bahwa saya suka serangga atau saya makan serangga sampai saya berusia sekitar 20 tahun. Saya takut dianggap orang aneh atau diintimidasi karenanya," kisah Shinohara.

Manusia telah memakan serangga selama ribuan tahun dan tetap menjadi makanan umum di banyak negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Oseania. Tetapi, bagi banyak orang di belahan dunia Barat dan di tempat lain, serangga bukanlah makanan yang umum dikonsumsi.

Pakar lingkungan dan pertanian telah mencoba mengatasi hal ini dengan mempromosikan serangga sebagai sumber mineral dan protein. Meski Shinohara mendukung serangga dijadikan bahan makanan, tapi dia tidak menyukai gagasan serangga sebagai makanan pilihan terakhir.

Shinohara melihat serangga sebagai makanan lezat yang harus dinikmati. Sebagai contoh, phalera flavescens. Ulat berumbai putih ngengat dianggap sebagai gangguan di Jepang karena kegemarannya terhadap pohon sakura. Namun, Shinohara memandang ulat itu sebagai hadiah.

"Mereka benar-benar lezat. Rasanya manis dan lembut. Ulat itu hanya memakan daun pohon ceri, jadi mereka membawa aroma," ujarnya.

Shinohara juga menyukai jenis ulat lain, termasuk beberapa yang katanya memiliki rasa jeruk dari pohon pilihan mereka. "Di balik rasanya, bisa dibayangkan bagaimana ulat menikmati hidupnya. Itu sangat menakjubkan," imbuh dia.

Shinohara dan tim telah berencana membuka restoran masakan serangga bernama Antcicada di pusat Kota Tokyo pada April lalu, tapi terpaksa menundanya karena pandemi COVID-19. Sebagai ganti, mereka telah merancang sebungkus ramen kriket yang dapat dimasak di rumah, dan telah menjual 600 set secara online pada pertengahan Mei 2020.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!