Kenali Risiko Kelahiran Prematur pada Bayi dan Cara Penanganan yang Tepat
Kamis, 18 November 2021 - 17:30 WIB
"Sedangkan faktor risiko berdasarkan karakteristik kehamilan meliputi riwayat persalinan, riwayat memiliki anak kembar, masalah kesehatan selama kehamilan, dan riwayat pemeriksaan USG,” terang dr. Rima dalam webinar bertema Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur yang diselenggarakan Danone SN Indonesia, Rabu (17/11/2021).
Hal utama yang harus dilakukan, kata dr. Rima, adalah memberikan edukasi untuk mendukung kehamilan yang sehat, berkonsultasi dengan ahli, dan menekankan pentingnya memahami faktor risiko kelahiran prematur.
“Riwayat kelahiran dapat meningkatkan risiko prematur bagi ibu yang memiliki riwayat abortus (1,9 kali lebih berisiko), riwayat persalinan prematur (3 kali lebih berisiko), dan riwayat persalinan sesar (2,9 kali lebih berisiko)," terang dr. Rima.
Baca Juga: Ini 7 Penyebab Rambut Beruban Prematur
"Selain itu, usia ibu melahirkan kurang dari 19 atau lebih dari 35 tahun, stres maternal yang dialami ibu, dan jumlah cairan ketuban yang tidak normal juga dapat meningkatkan risiko preterm," lanjutnya.
Salah satu upaya untuk menurunkan risiko kelahiran prematur adalah memperhatikan kebutuhan nutrisi melalui suplementasi omega 3, zinc, vitamin D3, atau multi-mikronutrien.
Pada kesempatan yang sama, Spesialis Anak Konsultan Neonatologi Dr. dr. Putri Maharani TM, Sp.A(K) menjelaskan, kesulitan utama dalam kasus prematur ialah perawatan anak lahir prematur. Anak lahir prematur mempunyai kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim akibat ketidakmatangan sistem organ tubuhnya seperti paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan sistem pencernaan.
"Upaya untuk meminimalkan dampak negatif selama perawatan adalah menjaga agar berat badan lahir rendah (BBLR) berada dalam kondisi yang optimal untuk tumbuh dan berkembang, salah satunya dengan menerapkan developmental care,” terangnya.
Hal utama yang harus dilakukan, kata dr. Rima, adalah memberikan edukasi untuk mendukung kehamilan yang sehat, berkonsultasi dengan ahli, dan menekankan pentingnya memahami faktor risiko kelahiran prematur.
“Riwayat kelahiran dapat meningkatkan risiko prematur bagi ibu yang memiliki riwayat abortus (1,9 kali lebih berisiko), riwayat persalinan prematur (3 kali lebih berisiko), dan riwayat persalinan sesar (2,9 kali lebih berisiko)," terang dr. Rima.
Baca Juga: Ini 7 Penyebab Rambut Beruban Prematur
"Selain itu, usia ibu melahirkan kurang dari 19 atau lebih dari 35 tahun, stres maternal yang dialami ibu, dan jumlah cairan ketuban yang tidak normal juga dapat meningkatkan risiko preterm," lanjutnya.
Salah satu upaya untuk menurunkan risiko kelahiran prematur adalah memperhatikan kebutuhan nutrisi melalui suplementasi omega 3, zinc, vitamin D3, atau multi-mikronutrien.
Pada kesempatan yang sama, Spesialis Anak Konsultan Neonatologi Dr. dr. Putri Maharani TM, Sp.A(K) menjelaskan, kesulitan utama dalam kasus prematur ialah perawatan anak lahir prematur. Anak lahir prematur mempunyai kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim akibat ketidakmatangan sistem organ tubuhnya seperti paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan sistem pencernaan.
"Upaya untuk meminimalkan dampak negatif selama perawatan adalah menjaga agar berat badan lahir rendah (BBLR) berada dalam kondisi yang optimal untuk tumbuh dan berkembang, salah satunya dengan menerapkan developmental care,” terangnya.
Lihat Juga :