Film A Matter of Moments: Kontemplasi dari Kumpulan Memori
Jum'at, 17 Desember 2021 - 14:21 WIB
Film pendek A Matter of Moments mengajak penonton merenungkan hidup lewat pengalaman pribadi orang lain. Foto/Genflix
JAKARTA - Film pendek ini mengingatkan pada sebuah lagu lama milik Cliff Richard, yang kebetulan berjudul sama.
Jika Cliff Richard bercerita tentang pengalaman jatuh cinta dalam waktu yang singkat, maka film “A Matter of Momments” adalah sekumpulan kenangan yang personal dari beberapa insan. Tidak hanya perkara cinta, tapi juga kehilangan dan secuil harapan dirangkum di sana.
Disutradarai oleh sineas muda dari tanah Borneo, Muhammad Aditya Saputra (Adit), A Matter of Moments terbagi dalam tiga babak. Masing-masing babak terdiri dari beberapa cerita yang merupakan potongan berharga dari kisah hidup para pemiliknya.
Film dibuka dengan memori dari sang sutradara. Adit mencurahkan kegalauannya dalam meneruskan membuat film, selepas kepergian teman-temannya. Cerita lain muncul dari pergulatan batin seorang gadis yang khawatir pada masa depan dan kemampuannya menjadi sosok yang membanggakan.
Sementara, kisah mengharukan datang dari sepasang kekasih yang bahasa afeksinya ditunjukkan melalui kegiatan makan bersama dan dialog penuh atensi, tapi akhirnya dipisahkan oleh kematian.
Babak kedua berisi kenangan yang lebih personal berupa potongan video dari kehidupan pribadi Adit dan teman-temannya. Selain itu, ada pula reka ulang momen romantis Adit bersama sang mantan, yang lagi-lagi bicara tentang kehilangan. Lalu pada bagian akhir, Adit memberi penegasan kembali atas harapannya sebagai kreator film.
Foto: Genflix
Jika Cliff Richard bercerita tentang pengalaman jatuh cinta dalam waktu yang singkat, maka film “A Matter of Momments” adalah sekumpulan kenangan yang personal dari beberapa insan. Tidak hanya perkara cinta, tapi juga kehilangan dan secuil harapan dirangkum di sana.
Disutradarai oleh sineas muda dari tanah Borneo, Muhammad Aditya Saputra (Adit), A Matter of Moments terbagi dalam tiga babak. Masing-masing babak terdiri dari beberapa cerita yang merupakan potongan berharga dari kisah hidup para pemiliknya.
Film dibuka dengan memori dari sang sutradara. Adit mencurahkan kegalauannya dalam meneruskan membuat film, selepas kepergian teman-temannya. Cerita lain muncul dari pergulatan batin seorang gadis yang khawatir pada masa depan dan kemampuannya menjadi sosok yang membanggakan.
Sementara, kisah mengharukan datang dari sepasang kekasih yang bahasa afeksinya ditunjukkan melalui kegiatan makan bersama dan dialog penuh atensi, tapi akhirnya dipisahkan oleh kematian.
Babak kedua berisi kenangan yang lebih personal berupa potongan video dari kehidupan pribadi Adit dan teman-temannya. Selain itu, ada pula reka ulang momen romantis Adit bersama sang mantan, yang lagi-lagi bicara tentang kehilangan. Lalu pada bagian akhir, Adit memberi penegasan kembali atas harapannya sebagai kreator film.
Foto: Genflix
Lihat Juga :